Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

Sebelum saya memulai pembahasan cara gagal membangun usaha, saya ingin memberikan peringatan bahwa tulisan satu ini adalah salah satu tulisan paling panjang yang pernah saya buat. Namun saya pastikan untuk anda, terutama anda yang saat ini sedang ingin memulai usaha atau baru memulainya, bahwa ANDA TIDAK AKAN RUGI meluangkan waktu untuk menyimak pembahasan ini sampai tuntas.

 

Setidaknya, anda akan mendapatkan ilmu yang sangat dasar sekali untuk memulai usaha, bahkan saking dasarnya, pembahasan ini tidak menjanjikan yang muluk-muluk kepada anda, seperti misalnya anda akan berhasil, sukses dan kaya seperti para Leader MLM memotivasi Downline mereka.

 

Saya juga berusaha menyajikannya semenarik mungkin dengan contoh, kisah nyata dan se-berbeda mungkin dari yang lainnya, agar anda tidak bosan seperti ikut seminar-seminar atau kursus online yang diisi oleh narasumber full teori dimana belum sampai tuntas anda sudah menahan kantuk dibuatnya.

 

Karena hal yang akan dibahas ini benar-benar dasar, namun tidak patut disepelekan begitu saja. Karena “dasar” yang benar itulah yang berpotensi menghasilkan “Expert” yang benar. Jika dasarnya saja keliru, “Expert” yang dihasilkan ya berpotensi keblinger.

 

Pertanyaan-nya apakah ilmu dasar yang anda dapat tentang memulai usaha itu sudah benar? Ya saya tau, benar atau salah itu relatif. Namun perlu diingat, gagal memulai sesuatu dengan hal yang paling mendasar saja, itu sudah indikasi bahwa dasarnya saja sudah salah. Dalam konteks membangun Usaha, gagal di awal permulaan adalah tanda bahwa dasar yang anda ketahui kurang tepat. Untuk itu belajar ilmu dasar ini sangat penting.

 

Sebagai alternatif selain membaca, anda dapat mendengarkan Audio Podcast dimana saya yang membacakan tulisan ini untuk anda, jadi bagi anda yang tidak suka membaca tulisan panjang, bisa langsung mendengarkannya sambil melakukan aktivitas lain.Cara Gagal Membangun Usaha ini juga akan selalu saya Update poin-poinnya di Bachri.com

 

Pembahasan cara gagal membangun usaha ini tentu bukan untuk anda lakukan, Lebih tepatnya justru untuk anda hindari. Terutama untuk anda yang baru mau atau sedang memulai membangun usaha.

 

Daripada anda disibukan dengan pertanyaan

“Usaha apa yang cocok?”

“Bisnis apa yang bagus?”

“Bagaimana cara sukses membangun usaha?”

Ataupun semacamnya, kenapa tidak anda rubah saja pertanyaannya menjadi

“Hal apa yang menyebabkan usaha yang baru mulai bisa gagal?”

 

Bukankah selama ini anda mencari usaha apa yang cocok untuk anda jalankan itu juga karena anda mengkhawatirkan kegagalan? Kemudian anda ingin memastikan bahwa ada bisnis atau usaha yang benar-benar bisa membuat anda berhasil dan membuat anda mendapatkan keuntungan banyak bukan?

 

Maka dari itu, jika anda seorang pemula atau orang yang baru mau memulai usaha, akan lebih tepat jika yang harus anda ketahui terlebih dahulu adalah langkah-langkah bagaimana usaha anda tidak menemui potensi kegagalan apalagi di awal-awal merintis usaha. Bukan malah disibukkan dengan mencari bisnis atau promosi apa dan bagaimana yang bisa membuat anda berhasil? Yang dimana hal itu belum tentu cocok buat anda.

 

Karena sejatinya setiap produk pasti ada pembelinya, tinggal anda sebagai eksekutornya, apakah anda bisa membawa produk yang anda jual bertemu dengan pasar yang tepat?

 

Kegagalan usaha di awal-awal merintis dapat sangat menyerang psikis dan mental anda. Membuat anda berpotensi berpikir bahwa anda tidak berbakat untuk usaha, bahkan trauma dan menutup diri akan peluang usaha yang ada.

 

Untuk itulah agar usaha yang baru mau anda mulai dapat meminimalisir kegagalan, hindarilah cara gagal dalam usaha yang akan saya bahas berikut ini:

 

 

Tidak Melakukan 3 Tahapan Penting di Awal Usaha

 

Rata-rata usaha rintisan, gagal karena mengabaikan 3 Tahapan penting yang akan saya bahas berikut ini. Sebagai orang yang niat membangun usaha, sebaiknya anda harus mengetahui dan mempraktekkan 3 Tahapan penting ini.

 

Jika anda baru mau memulai usaha, Anda harus menyimak ini sampai selesai. Saya tidak akan mengambil contoh jauh-jauh membahas kesuksesan Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Ma, Steve Jobs, Jeff Bezos atau sebagainya.

 

Eits, Jangan berpikir juga saya akan membahas orang-orang sukses lokal yang baru-baru ini namanya mencuat seperti Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, Achmad Zaky atau sebagainya. Karena saya paham, sudah sangat banyak yang membahasnya di luar sana.

 

Apakah anda mulai berpikir bahwa saya akan membahas diri saya dan pengalaman saya sendiri? Bukan! Tentu saya tidak membahas diri sendiri juga disini, Tidak! Saya mengerti anda pasti jengkel dengan orang-orang yang mencoba membanggakan dirinya di hadapan anda.

Disini saya akan menjadikan orang terdekat saya sebagai contoh yang tanpa sengaja telah menjalankan 3 tahapan ini. Ia adalah Istri saya sendiri dengan usaha Cimol Mozzarella nya.

 

Cerita ia memulai usahanya diawali karena kegemarannya membuang-buang uang untuk membeli cemilan-cemilan yang ia suka. Dia pecinta cemilan kekinian. Sering protes terhadap saya yang suka menghamburkan uang untuk membeli rokok, tapi dia tidak menyadari bahwa uang yang dikeluarkan untuk beli cemilan juga tidak kalah banyak.

 

Karena kami tinggal di tempat yang semi komplek dan tetangga yang sedikit, Ketika saya disibukan dengan rutinitas, teman ngobrol dan nyemil istri saya yang saat itu profesinya sebagai ibu rumah tangga adalah tetangga persis depan rumah saya, seorang ibu yang biasa dipanggil Oma dan anak gadisnya yang masih SMK di kejuruan Tata Boga bernama Bimbi. Karena tetangga saya hobi memasak, tidak jarang mereka dan istri saya mengotori dapur untuk bereksperimen membuat makanan dan tentunya saya yang menghabiskan makanan tersebut.

 

Saat PSBB di berlakukan, Istri saya dan Anak tetangga saya si Bimbi yang saat ini masih harus menjalani sekolah dari rumah, entah apa yang terjadi tiba-tiba mereka kepikiran untuk iseng menjual Cimol Mozzarella buatan tangan mereka dan awal-awal sudah dapat 30 bungkus lebih orderan.

 

 

Foto Contoh Develop Cimol 3

 

 

Lucunya, tanpa disadari mereka telah melakukan 3 Tahapan awal yang memang seharusnya dilakukan oleh pengusaha pemula manapun untuk meminimalisir kegagalan. Nah apa saja 3 tahapan tersebut?

 

 

Tahap Development

 

Tahap Development ini adalah tahap merealisasikan produk awal yang berasal dari ide. Jika dalam kasus startup, ini adalah tahap dalam membangun Puwarupa (Prototype) atau Minimum Viable Product (MVP), contohnya seperti yang saya lakukan saat ini membuat mvp.isikado.com yang dimana saya memberikan puluhan ebook gratis dengan hanya… Oh iya saya lupa, saya tidak seharusnya membahas diri saya. ya, jika anda penasaran seperti apa startupnya dan ebook apa yang diberikan, kunjungi mvp.isikado.com saja.

 

Kembali ke istri saya dan si Bimbi di Tahap Development, mereka berhasil membuat produk awal dengan ilmu masak yang mereka punya dan resep yang mereka ambil dari internet. Mereka berhasil merealisasikan ide cimol berisi mozzarella itu menjadi sebuah wujud yang dapat dipegang, digigit dan ditelan.

 

Foto Membuat Cimol

 

Begitu saya tanya Istri¬† “Mengapa kepikiran jual cimol mozzarella?”

 

Dengan mudah ia menjawab “Karena aku suka cimol dan suka mozzarella.”.

 

Jadi pada tahap pertama ini memang harus fokus membangun produknya terlebih dahulu, bukan untuk hal yang lain. Hal ini mungkin kelihatan sepele, namun tidak bisa dipungkiri, pada praktek membangun usaha, banyak yang melakukan kesalahan dengan menggelontorkan uang yang tidak berhubungan dengan pembuatan produk awal.

 

Tolong jangan anggap sepele tahap paling penting ini, bahkan jika anda memiliki ide, anda harus mencari cara untuk merealisasikan ide tersebut secepat-cepatnya menjadi sebuah produk dengan tujuan agar anda bisa memvalidasi ide tersebut.

 

Ingatlah ide yang anda yakini hebat tersebut belum tentu benar-benar bagus sebelum anda merealisasikannya. Ide itu murah! 0 Rupiah! karena anda bisa membuat ide tanpa ada biaya. Asumsi bahwa orang-orang membutuhkan produk hasil ide anda tersebut juga belum tentu benar jika produknya masih berbentuk ide. Realisasikan dan Validasi! Barulah anda akan tahu benar atau tidaknya asumsi anda.

 

Cara memvalidasinya dengan memberikan tester, free trial, diskon dan sebagainya dengan tujuan memberikan pengalaman terhadap konsumen, agar anda tahu produk anda itu layak dijual atau tidak.

 

Foto Contoh Develop Cimol 2

 

Anda bisa mencontoh produk cimol mozzarella buatan istri saya dan si Bimbi, yakni memberikan tester kepada saya, hehehe. Tidak hanya saya sih, bahkan mereka juga memberi kesempatan lidah tetangga saya untuk mencobanya. Begitu responnya “Enak nih”, baru mereka Pede melakukan tahap selanjutnya. Tidak melakukan hal ini pada awal mula usaha anda bisa menjadi Cara anda agar gagal membangun usaha di awal merintis.

 

 

Product Market Fit

 

Pada tahapan kedua ini, anda harus memvalidasi yang kedua kalinya. Tapi yang divalidasi kali ini adalah bisnis model di pasar. Product Market Fit adalah tahap pembuktian bahwa calon konsumen bersedia membeli.

 

Biar tidak lama-lama dengan definisi, langsung saja ke contoh product market fit yang dilakukan istri saya dan si Bimbi dengan Cimol Mozzarellanya. Setelah berhasil melewati tahap development, cimol mozzarella itu akhirnya dijual dengan sistem PO atau Pre Order, yakni sistem pembelian dengan memesan dan membayar terlebih dahulu di awal dengan masa tenggang waktu tunggu.

 

 

Product Market Fit Cimol

 

 

Mereka mulai bergerilya menawarkan Cimol Mozzarellanya dengan cara update status WhatsApp, Posting di Sosial Media, dan sebagainya. Bermodalkan foto dan video dari beberapa biji cimol yang mereka buat dan coba. Di hari pertama hanya ada 3 orderan, pembicaraan istri sebelum tidur mulai ke arah keluh kesah

 

 

“Aku pingin jualanku laku, gimana ya caranya?”

Saya hanya tersenyum dan bilang

“semua orang yang jualan juga mau begitu”

 

Wajahnya agak terlihat sedih, semangatnya perlahan menurun, istri saya memang seperti itu tipikalnya.

 

Beruntunglah karena WhatsApp punya fitur broadcast, pada hari kedua ia menggunakan fitur tersebut untuk menawarkan dagangannya. Hasilnya 30 orderan masuk, ia terlihat bahagia namun tidak lupa sedikit keluhan ia keluarkan “Aduh bakal capek banget buatnya.”

 

Saya bukan tersenyum lagi, tapi sedikit tertawa sambil membalas “Lah kan itu yang kemarin kamu mau?”. Benar saja, mereka harus sampai begadang untuk membuat cimol mozzarella tersebut.

 

 

 

 

Jadi cara gagal membangun usaha selanjutnya adalah tidak melakukan product market fit. Banyak kasus yang terjadi belum apa-apa sudah memikirkan sewa tempat, buat stand, stok produk, padahal belum tentu pasar menilai produk tersebut layak mereka beli atau tidak. Walaupun setiap produk pasti ada pembelinya, Namun apakah anda mampu mempertemukan produk tersebut ke pasar yang tepat? Jawabannya validasi lah dengan melakukan product market fit.

 

 

Early Growth

 

Tahapan Early Growth ini, tentu bisa anda lakukan jika anda sudah melewati tahap development dan product market fit. Tujuannya adalah untuk menciptakan pertumbuhan yang stabil dan tumbuh konsisten. Di tahapan ini, berarti produk anda seharusnya terjual semakin banyak dan semakin sering.

 

Mungkin sudah terlalu banyak saya menjadikan contoh Cimol Mozzarella sebelumnya, tapi saya tidak bosan-bosan membahasnya, saya berharap anda juga tidak bosan menyimaknya.

 

Namun baiklah, kali ini sedikit saja saya membahas Cimol Mozzarella. Singkat cerita istri saya dan si Bimbi membuka sistem Pre Order untuk kali kedua. Yang terjadi adalah mereka mendapatkan order dari konsumen baru dan konsumen yang kemarin membeli alias repeat order. Sampai saat ini mereka masih menjual Cimol Mozzarella tersebut dengan sistem Pre Order seminggu sekali, dan ternyata banyak konsumen yang sudah menanyakan dan siap untuk kembali membelinya bilamana sistem Pre Order akan tersebut kembali dibuka.

 

 

Foto contoh early growth

 

 

Kasus di atas menandakan bahwa mereka sedang menjalankan tahapan early growth. Dan sayangnya mereka baru sampai pada tahapan tersebut dan cerita belum bisa dilanjutkan. Namun pembahasan ini masih panjang, yang itu artinya saya harus menyediakan kisah nyata lainnya sebagai contoh. Tenang! Saya masih banyak stok kisah nyata yang akan saya jadikan contoh untuk membahas poin selanjutnya.

 

Oh iya, sebelum ke poin selanjutnya Mungkin anda bertanya “Lho, memang ada tahap selanjutnya?”

 

Tentu ada! Kalau tidak ada, tidak mungkin poin ini saya bahas menjadi salah satu cara gagal membangun usaha jika anda tidak melakukannya.

 

Mungkin anda saat ini malah semakin bertanya-tanya

“Bukankah, kalau sudah berhasil melakukan tahap Development dan Product Market Fit, Otomatis akan ke tahap Early Growth? Jadi tidak mungkin kan Tahap Early Growth tidak dilakukan?”

 

Jawabannya “Mungkin”, Karena setelah tahap early growth ada tahap ekspansi, yakni tahapan memperluas usaha dengan skala yang lebih besar. Ada saja yang baru selesai tahap Product Market Fit langsung ke tahap Ekspansi.

 

Sebagai contoh jika istri saya dan Si Bimbi saat setelah PO pertama langsung membuka gerai bercabang-cabang, merekrut banyak karyawan dan memasukan usahanya ke aplikasi ojek online. Otomatis mereka harus stok bahan yang banyak, memastikan stok cimol selalu tersedia, harus memikirkan biaya sewa lapak, membayar karyawan dan sebagainya.

 

Padahal 30 orderan pertama itu, belum tentu konsumen mau repeat order, belum tentu lidah mereka merasakan bahwa cimol itu enak. Bisa jadi mereka membeli karena tidak enak hati dengan si penjual, karena yang menjual cimol itu suka membeli makanan mereka, karena kasihan, karena ingin bantu, ingin coba dulu.

 

Jangankan usaha yang dari tahap product market fit langsung loncat ke tahap ekspansi. Usaha yang baru sekedar ide, tahap developmentnya saja belum dilakukan, tapi founder nya langsung memikirkan ekspansi buat cari investor, nyewa ruko, rekrut karyawan, itu juga tidak jarang kejadian.

 

Tiga tahap di atas memang bisa dikecualikan untuk dilakukan dan bisa juga langsung masuk ke tahap ekspansi, asalkan pelaku usaha sudah terbukti memiliki rekam jejak yang baik, kompetensi serta potensi mengelola usaha yang sudah berhasil melewati 3 tahapan awal dan berhasil ada di tahap ekspansi bahkan sudah melewati tahap ekspansi tersebut.

 

Pertanyaannya, apakah anda memiliki itu semua? Kalau tidak, ya lakukan dulu 3 tahapan tersebut. Tapi kalau anda memang mau mendapatkan pengalaman gagal usaha, ya tidak usah dipedulikan 3 tahapan awal tersebut. Jika anda pemula dan 3 Tahapan awal tersebut tidak dilakukan, potensi anda mendapatkan pengalaman gagal membangun usaha akan lebih dominan.

 

 

 

**
Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 3 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”,¬†Artikel ini masih akan berlanjut ke PART III dan Seterusnya. Nantikan update selanjutnya segera!

\

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang     Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product […]

0 comments