Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

 

Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product Market fit dan Early Growth.

 

Jika anda bingung apa itu development, product market fit dan early growth? Atau anda belum mengikuti Part sebelumnya dari pembahasan “cara gagal membangun usaha” ada baiknya anda membaca Part I terlebih dahulu yang anda bisa lihat dengan klik disini.

 

Saat ni saya akan membahas Poin ke 2 dari cara gagal membangun usaha yang sebenarnya ada 5 poin di dalamnya. 3 poin berikutnya akan saya lanjutkan pada part-part selanjutnya menimbang Poin ke-2 yang saya bahas ini cukup panjang. Saya akhiri kalimat pembuka ini dengan ucapan “Selamat Menyimak”.

 

Selalu Berpikir Kekurangan Modal

 

Usaha butuh modal itu mutlak dan tidak bisa diganggu gugat! Namun sayangnya banyak sekali yang merasa kekurangan modal sebagai kendala usahanya saat ini belum bisa bangkit atau bahkan belum bisa dimulai. Itu semua karena persepsi akan modal itu sendiri adalah uang. Padahal uang hanya salah satunya, bukan satu-satunya. Persepsi saya bahwa banyak yang menganggap uang sebagai modal utama usaha, semakin diperkuat dengan bukti chat yang bisa anda lihat berikut ini:

 

Screenshot Chat Om Edu

 

Orang yang membalas chat tersebut bukanlah orang yang bisa dianggap remeh, saya tahu anda tidak mengenalnya. Namun saya ceritakan sedikit backgroundnya, ia bernama Edward Sutanto atau biasa saya panggil Om Edu, ia adalah salah satu member grup UMKM yang saya buat untuk membina UMKM agar bisa lebih melek digital.

 

Om Edu juga salah satu UMKM dan Mentor usaha yang juga membina UMKM yang kalau tidak salah ia membina dalam hal pemasaran dan pembukuan keuangan. Saat ini ia juga sedang melakukan Product Market Fit atas perusahaan berbasis digital yang baru saja ia rintis di luar usaha lain yang sudah berjalan. Berbekal ilmu pengetahuannya tentang dunia Waralaba atau Franchise yang sudah lama ia geluti, ia membuat sebuah perusahaan yang menyediakan pilihan usaha franchise berbasis digital dengan melibatkan UMKM binaannya.

 

Karena kompetensinya dalam membina UMKM, banyak perusahaan fintech atau pembiayaan berbasis digital yang menawarkan kerjasama dengan tujuan untuk menggaet UMKM dibawah binaannya sebagai pengguna fintech tersebut.

 

Rebranding Usaha UMKM

Salah satu produk UMKM Binaan Om Edu yang ia bantu Rebranding

 

Dan di lapangan, setelah mungkin ia melakukan komunikasi dengan banyak UMKM, ia berkeyakinan bahwa kendala utama UMKM adalah modal, yang dalam hal ini modal itu berarti Uang. Hal tersebut bisa tergambar dari screenshot chat yang saya sertakan tadi, Dimana disitu ia mengutarakan pendapat bahwa salah satu kendala utama UMKM terutama yang masuk dalam kategori Mikro dan Kecil adalah modal, yang konotasinya lebih ke modal yang berupa uang.

 

Tapi saya memberikan sebuah pernyataan berupa if else (jika-maka) saat ia mengungkapkan bahwa kendala utama UMKM adalah modal berupa uang. Karena yang saya yakini sampai saat ini uang itu bukan modal satu-satunya, namun hanya salah satunya. Makanya saya bisa membalas chatnya dengan if-else “Jika kendala utama UMKM adalah modal, maka Pinjaman Online yang 5 menit cair bisa menjadi solusi apabila bicara diluar kepercayaan agama manapun.” kemudian  balasan chat dari om Edu berikutnya entah memang setuju betulan atau terpaksa menyetujui, sepertinya kalimat itu cukup sulit diberi argumentasi apabila kendala utama yang benar-benar dialami UMKM adalah modal uang.

 

Itu mengapa sampai saat ini saya masih ragu apabila kendala utama UMKM atau Usaha adalah Uang. Apakah benar itu masalah utama? Atau memang hanya kedok untuk menutupi keraguan akan kemampuan?

 

Bisa jadi kan justru kendala utamanya justru faktor penting lain yang disepelekan seperti kurangnya literasi finansial, tidak mampu melakukan strategi pemasaran, promosi dan sebagainya yang asalnya dari diri sendiri.

 

Saya tahu bahwa kalimat “uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang” sudah mencuat bahkan menjadi mindset untuk banyak orang saat ini. Tapi apakah benar uang menjadi faktor utama? Saya tidak yakin! bisa jadi uang hanya faktor pendukung saja.

 

Anda tahu bagaimana Alibaba bisa sebegitu besarnya? kalau anda berpikir bahwa alibaba berawal dengan modal uang, itu salah besar! Yang dilakukan Jack Ma adalah…

 

Oh iya saya lupa, saya sudah bilang di part sebelumnya bahwa saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh dan tidak menjadikan diri saya sebagai contoh… Kalau begitu dari Jack Ma, saya beralih membahas Rian saja. Bukan! bukan vokalis D’Masiv, Namun Rian ini adalah teman saya sejak SMP. Meski berteman dari SMP, Saya baru akrab dengannya 3 tahun belakangan ini, karena ia sering main ke rumah untuk sekedar ngopi dan ngobrol. Salah satu yang menjadi sebab juga Rian bisa akrab dengan saya hingga saat ini karena Rian tidak pernah meminjam uang saya selama berteman dengan saya.

 

Rian itu mantan koki di restoran yang cukup ternama, ia berhenti bekerja karena kondisi saat itu ia sedang mengambil kuliah kelas karyawan yang dimana pada hari Sabtu ia harus masuk dan jadwal pekerjaan-nya mengharuskan Rian masuk di hari Sabtu. Maka ia putuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk kuliah sampai tuntas.

 

Karena kesulitan mencari pekerjaan yang libur di hari sabtu dengan skill yang ia punya yakni memasak, Rian mengisi waktu kosong senin-jumat dan minggu untuk cari penumpang. Ya, dia beralih menjadi driver ojek online.

 

Suatu hari si Rian ini curhat bahwa pacarnya selalu minta dinikahi, Rian bukan tidak mau, ia baik-baik saja jika pacarnya bersedia diresmikan hanya di KUA tanpa pesta dengan mas kawin yang alakadarnya.

 

Curhatan panjang itu akhirnya bermuara ke pembahasan tentang masalah perekonomian. Dari mulai membahas orderan ojolnya mulai sepi padahal ia tidak pernah menimbang-nimbang jarak untuk ambil penumpang, ia keukeuh dan bermimpi ingin keluarganya yang terdiri dari orangtuanya dan dua adiknya memiliki rumah sendiri karena sampai saat ini masih sewa rumah, pacarnya terus meminta Rian untuk menikahinya (ini sangat wajar sih), Kuliah masih ada beberapa semester lagi, ingin cari pekerjaan namun ia belum menemukan yang bisa libur di hari Sabtu. Saya menangkap semua keluh kesah Rian menjadi satu kesimpulan, bahwa Rian ingin punya banyak uang.

 

Saya sebagai teman yang saat itu merasa diajak bertukar pikiran akhirnya mau tidak mau memberikan sedikit pikiran saya. Saya hanya berkata bahwa “yang halal belum tentu potensial”. Jadi Driver ojol memang halal, tapi apakah potensial? saya rasa belum tentu, bahkan lebih kepada tidak potensial. Kalau usaha sudah pasti potensial, namun sebaliknya, apakah halal? belum tentu.

 

Driver Ojol yang membaca ini mungkin mengelak, “Tapi jadi driver ojol kan penghasilannya bisa buat bangun usaha?”

Nah, itu berarti usaha nya yang potensial kan?

 

Saya bersimulasi menjawab pertanyaan sendiri itu sebenarnya ingin menghindari perdebatan karena ketersinggungan, namun mau bagaimana? Memang kalau bicara potensial, ya tidak. Bagaimana bisa jika statusnya mitra, bisa diputus kapan saja, dan sebagainya disebut potensial? kalau sekedar “Yang Penting Halal” iya. Saya pun berharap agar pihak perusahaan ojol, membuat kebijakan agar profesi ojol menjadi potensial.

 

Lanjut ke kisah Rian,

 

Rian menangkap maksud saya, ia tahu bahwa saya menyarankan Rian untuk usaha. Namun seperti kebanyakan orang lainnya, pertanyaan Rian berikutnya setelah disarankan usaha adalah “Usaha apa yang cocok?” Namun sebelum Rian melanjutkannya dengan kalimat “Belum ada modal” saya pun melanjutkan pembicaraan bahwa usaha yang cocok adalah yang bisa dilakukan secepat-cepatnya, 

 

Saya mengatakan bahwa ia punya kemampuan memasak, Bahkan ia pernah cerita Roti Tissue yang ia buat pernah mendapatkan ucapan “Good” dari salah satu juri Master Chef saat berkunjung ke restoran tempat ia bekerja dulu, saya percaya ceritanya karena saya tau masakan Rian memang enak dan dia itu sulit untuk berbohong. Intinya kemampuan tersebut bisa menjadi modal awal.

 

Tidak terasa waktu kami mengobrol sudah berganti hari,  Pukul 02.00 dini hari menandakan waktu obrolan kami selesai. Entah ia menangkap saran saya atau tidak, yang penting sebagai teman saya sudah menyarankan yang menurut saya itu terbaik yang bisa saya berikan sebelum ia pamit pulang.

 

Tanda ia memikirkan saran saya atau tidak, terjawab jelang seminggu kemudian ketika Rian main lagi ke rumah saya membawa pacarnya. Pacarnya di dalam menemani istri saya, si Rian di luar bersama saya, Rian menyatakan keinginannya untuk membuat usaha makanan, ia mau berjualan Rice Bowl.

 

Saya dengan senang hati mendengarnya dan memberikan beberapa saran. saya memberikan saran kepada Rian untuk melakukan 3 hal penting yang barusan saya bahas, serta sedikit tambahan saran kepada rian untuk membuat foto makanan yang bagus dengan modal kardus, karton putih dan sorotan lampu + dibantu dengan editan aplikasi android bernama VSCO dengan panduan edit foto yang bisa dilihat di Pinterest dengan keyword “VSCO Food guide”

 

Dan inilah yang dihasilkan dari obrolan tersebut:

 

Foto Ala Studio Makanan

foto menu rice bowl ayamnibro

 

hahaha, Rian hampir sama sekali tidak keluar uang untuk dapat background foto layaknya foto ala ala studio tersebut. Rian menggunakan kardus, lem kertas, kalender bekas yang dibalik, dan lampu belajar yang sudah lama ia miliki.

 

Dengan sisa uang rokok yang ia punya, ia membuat beberapa menu untuk difoto, bahkan saya tak luput diberikannya tester dari Rice Bowlnya.

 

“Enak!” hehe.

 

Rian memulai tahap Product Market Fit untuk menjual Rice Bowl tersebut dengan sistem PO atau Pre Order yang dipasarkan di status WA dan Instagram bermodal foto dan kata-kata “Open PO…”, saya juga termasuk yang ikut PO hehe.

 

 

Tidak disangka, di saat baru beberapa hari menjalankan usahanya, teman kuliah si Rian yang saat itu ternyata salah satu manager di perusahaan besar senang melihat Rian usaha, hal itu tergambar dari chat ketika ia membalas status WA Rian tersebut. Tidak hanya mengirim balasan Chat, bahkan Rian diberikan uang cuma-cuma sebesar 1 juta Rupiah. Kata Rian, dia sampai gemetaran membalas chatnya, karena belum ada yang pernah kasih dia uang cuma-cuma segitu banyak, hanya karena senang melihat Rian memulai usahanya. Ya, Sesederhana itu alasannya. Orderan Rice Bowlnya juga sampai saat ini Rian bilang “Tiap hari ada saja yang beli dari aplikasi Ojek Online”

 

Ayamnibro Gofood Screenshot

Usaha Rice Bowl Rian di Aplikasi Ojol

 

Screenshot Hasil Jualan Ricebowl Rian di Aplikasi Ojol

Beberapa hasil jualan Rian di Aplikasi Ojol

 

Jadi bagaimana? Apa saat ini anda masih berpikir bahwa anda kekurangan modal untuk membuka usaha? Lalu apakah anda masih berpikir bahwa Uang adalah modal utama yang bisa merealisasikan usaha anda? Padahal orang seperti Rian saja menggunakan uang rokoknya hanya sebagai pendukung berdirinya usaha, bukan modal utama, ia tidak pernah merencanakan uang rokok tersebut untuk modal usaha sebelumnya. Dari uang rokok tersebut, ia buat foto produk menjadi status WA yang akhirnya menjembatani datangnya uang dari teman kuliahnya

 

Kalau masih seperti itu, coba anda dipikirkan kembali! Jangan-jangan jika anda memiliki uang pun, anda masih ragu untuk menjalankan usaha tersebut? Atau jika pun anda jalankan, anda malah gagal? Tanda-tandanya sudah terlihat dari cara anda berpikir bahwa uang adalah modal utama yang itu artinya modal lain seperti ilmu, kemampuan dan pengalaman menjadi modal nomor sekian.

 

Bukankah dengan berpikir seperti itu saja sudah menandakan bahwa usaha yang ingin atau sedang anda rintis bukanlah usaha yang mampu anda lakukan dan jalankan dengan sesuatu yang berasal dari dalam diri anda? Dengan kata lain, anda memikirkan apa yang diluar kemampuan anda, yakni modal uang yang cukup banyak.

 

Bukan tanpa alasan ya memasukan “berpikir kekurangan modal” ini sebagai poin untuk cara gagal membangun usaha. Karena pikiran tersebut banyak menghantui anak-anak muda milenial, yang ingin sekali memiliki startup, merasa idenya sangat bagus, menghubungkan A dengan B atau segala macamnya, tapi ia sendiri tidak bisa membuat produknya, berharap ada orang lain yang mau membantu merealisasikan idenya, berharap mendapatkan programmer handal untuk menjadi rekan bisnisnya, berharap ada investor baik hati atau angel investor yang mau gelontorkan uang milyaran hanya dengan sekedar memiliki konsep dan ide.

 

Banyak sekali yang seperti itu, Fokus kepada hal yang ia sendiri tak bisa melakukannya dengan cara semudah-mudahnya di awal, ambisi sukses hanya mengandalkan ide yang baginya sangat brilian dan juga mengandalkan faktor keberuntungan berharap banyak orang akan menerimanya, tapi tidak menyesuaikan modal kemampuan merealisasikan, modal kemauan untuk berkorban dan tentu tidak menyesuaikan dengan modal yang ada pada isi rekening pribadinya.

 

Jika saat ini kemampuan anda hanya bisa menyeduh kopi, menyundut rokok dan memikirkan ide-ide, mungkin berjualan kopi dan rokok keliling dengan sepeda sambil mengajak ngobrol pembeli dengan membahas ide-ide anda adalah usaha yang tepat untuk anda mulai.

 

Jika anda ingin mendapatkan pengalaman gagal membangun usaha, berpikir “kekurangan modal” ketika berencana atau baru memulai usaha itu adalah  salah satu caranya, Cara yang terbukti cukup cepat bagi anda untuk mendapatkan pengalaman gagal membangun usaha, bahkan sebelum anda memulainya.

 

 

***

Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 3 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”, Artikel ini masih akan berlanjut ke PART III dan Seterusnya. Nantikan update selanjutnya segera!

 

PART III

Cara Gagal Membangun Usaha: Mengandalkan Pihak Ketiga (PART III)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Pembahasan cara gagal membangun usaha Part ketiga ini tentunya adalah lanjutan dari Part sebelumnya yakni “Selalu Berpikir Kurang Modal” di bachri.com yang bisa anda lihat dibawah ini:   Apabila dari part pertama pun anda belum membacanya atau menyimaknya, […]

0 comments