Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

Pembahasan cara gagal membangun usaha Part ketiga ini tentunya adalah lanjutan dari Part sebelumnya yakni “Selalu Berpikir Kurang Modal” di bachri.com yang bisa anda lihat dibawah ini:

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang     Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product […]

0 comments

 

Apabila dari part pertama pun anda belum membacanya atau menyimaknya, sebaiknya anda harus mengawali dari situ, dimana saya membahas bagaimana 3 tahap awal usaha yang sering luput dari kegiatan usaha pemula, sehingga saat mereka memulai usaha kemudian mengabaikan 3 tahap awak tersebut, seringkali itulah yang menjadi cara mereka gagal membangun usaha.

 

PART I
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2

Cara Gagal Membangun Usaha: Tidak Melakukan 3 Tahap Awal (PART I)

  Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Sebelum saya memulai pembahasan cara gagal membangun usaha, saya ingin memberikan peringatan bahwa tulisan satu ini adalah salah satu tulisan paling panjang yang pernah saya buat. Namun saya pastikan untuk anda, terutama anda yang saat ini sedang […]

0 comments

 

Cara Gagal Membangun Usaha ini terdiri dari 5 poin dan karena setiap poin-nya lumayan cukup panjang pembahasannya, makanya saya membaginya menjadi beberapa part. Baiklah, kali ini langsung saja saya akan membahas poin ketiga dari Cara Gagal Membangun Usaha yaitu:

 

Mengandalkan Pihak Ketiga

 

Keinginan membuat usaha sebaiknya ditunda sampai para pendirinya bisa membuat produk utama dengan tangan mereka sendiri. Hal tersebut mungkin terkesan kontroversial mengingat saat ini banyak sekali yang berwirausaha dengan mengandalkan produk orang lain. Seperti agen, warung sembako, reseller, dropshipper dan sebagainya. Namun konteks wirausaha yang dimaksud disini adalah yang memang diniatkan untuk besar dan menjadi sebuah perusahaan berbentuk badan sehingga terpisahlah keuangan pribadi dengan uang perusahaan,bukan yang hanya sekedar ‘asal bisa makan’. Bicara usaha tidak boleh sesempit itu walaupun memang ada tahapan.

 

Mungkin juga akan terdapat sanggahan seperti “ya, tapi kan juga banyak perusahaan besar yang mengandalkan produk orang lain. Seperti misalnya usaha retail, swalayan, dsb.”

 

Kalau soal itu berbeda ya, itu bicara soal kebutuhan, seperti soal retail, swalayan dan sebagainya, yang disediakan mereka kan justru wadah atau tempat yang strategis untuk menjajakan produk, jadi supplier produk yang lebih dominan membutuhkan mereka. Swalayan dan Retail sendiri ya butuh, hanya saja tidak jadi kerjasama tidak apa-apa juga kan? toh nama mereka masih ada, wadah mereka juga masih utuh dan banyak produk lain juga yang masih butuh.

 

Ini kenapa jadi bicarain swalayan dan retail? Sudah keluar dari substansi nih, hehehe. Sebenarnya bukan poin itu yang ingin diangkat. Baiklah langsung saja saya berikan anda Screenshot Chat

 

Screenshot Startup Terhenti

 

 

Screenshot startup terhenti 2

 

 

Sudah lihat screenshot chat di atas? Ya, saya mau langsung membawa anda kepada kisah menarik dari salah satu teman saya yang tidak mau disebutkan namanya. Pada screenshot tersebut saya telah meminta izin namun ia tidak berani disebutkan namanya dan perusahaannya, Karena ini kisah berhentinya sebuah perusahaan rintisan berbasis digital alias startup. Ya, startup yang mungkin saja tidak pernah anda dengar sebelumnya dan juga tidak akan saya sebutkan disini.

 

Setelah dikroscek startup itu ternyata benar pernah eksis dan pernah ada, meskipun websitenya sudah tidak bisa dibuka, berita beberapa kali muncul di media online sudah berbadan PT,  dibangun oleh sebuah komunitas yang jumlahnya ratusan orang hasil urun dana. Bahkan setelah saya kroscek ke sosial media, RUPS alias Rapat Umum Pemegang Saham banyak sekali founder. Ya, ratusan orang itu menyebut diri mereka founder dan tergabung dalam group sendiri yang salah satunya adalah teman saya tersebut. Jika dengar permasalahannya dari curhatan teman saya itu sangatlah kompleks, namun pada intinya startup itu harus terhenti sementara akar masalahnya adalah karena menurut teman saya tahap develop startup tersebut ditinggal sama orang IT yang posisinya sebagai karyawan dan pencetus utama trauma untuk rekrut orang IT lagi.

 

Hanya karena ditinggal beberapa orang, ratusan orang yang disebut founder itu sekarang harus menunggu sambil berharap? Dari ratusan founder apakah tidak ada satupun yang punya kemampuan web development? Atau mungkin punya namun berharap ada pihak lain yang bisa menyelesaikannya? Saya bingung sendiri membatin dalam hati, agak tidak masuk akal namun itu nyata.

 

Ini contoh kasus yang menarik, benar bahwa kata steve jobs.

 

Bila para pendiri tidak bisa membuat produk awal dengan tangan mereka sendiri, maka mereka tidak pantas mendirikan sebuah usaha

 

Ya, jadi kalimat yang mengawali poin ini saya sadur dan saya perhalus dari kalimat Steve Jobs. hehehe

 

Balik ke kisah Startup yang terhenti, hal ini benar sungguh menarik untuk dibahas. Kalau tidak menarik, tidak mungkin saya sampai minta izin ke teman saya untuk saya angkat. Makin kuatlah poin sebelumnya bahwa modal uang bukanlah yang utama, buktinya ya si startup yang sedang dibahas kali ini. Ratusan orang urun dana dan diposisikan sebagai pendiri, gimana bisa kurang uangnya?

 

Namun itu dapat menjadi contoh kasus yang bisa diambil esensinya bahwa Mengandalkan Pihak Ketiga sebagai cara gagal membangun usaha. Kejadian itu bukan hanya terjadi pada apa yang dialami teman saya itu saja, itu hanya salah satu dari sekian banyak kejadian serupa.

 

Sekali lagi harus saya singgung, siapapun sah-sah saja memiliki ide bagus, ide hebat, ide keren atau apapun itu sehingga dengan ide-ide tersebut mereka menyatakan diri sebagai seorang yang idealis. Apapun itu sungguh sah-sah saja, mau itu ide tentang aplikasi yang bisa membuat semua orang kaya tiba-tiba, ide membuat perusahaan yang bisa setara apple dan google, membuat sosial media terbaru. itu Hak siapapun yang bisa berpikir, sekali lagi sah-sah saja.

 

Namun maaf, sehebat apapun ide tersebut, itu hanya akan menjadi SAMPAH pikiran bila para pencetus ide hanya sibuk bicara pepesan kosong, menunggu pihak lain di luar pendiri yang mau membantu dan tidak mampu untuk direalisasikan oleh para pendiri.

 

Sesuaikan ide dengan kemampuan untuk melakukannya secara mandiri jika ingin meminimalisir kegagalan. Setidaknya jika pun gagal, bukan pada kegagalan dalam membuat produk utama, dimana hal tersebut merupakan langkah awal mendirikan usaha. Cobalah bercermin dan bertanya kepada diri sendiri

 

“Apa yang bisa saya lakukan sendiri untuk merealisasikan sebuah usaha tanpa harus mengandalkan orang lain?”

 

Kalau hanya berpikir ide, saya rasa anak ke-2 saya masih 3 tahun juga bisa melakukannya.

 

Mengandalkan pihak lain adalah cara yang paling sering dilakukan oleh mereka yang gagal membangun usaha, mau seperti mereka? Cobalah!

 

 

****

 

Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 2 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”,¬†Artikel ini masih akan berlanjut ke PART IV dan Seterusnya. Nantikan update selanjutnya segera!

 

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 4 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Asal Punya Partner (PART IV)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang       Seperti yang telah dikatakan pada part sebelumnya yakni “Cara Gagal Membangun Usaha Part 3” dimana tulisan “Cara Gagal Membangun Usaha” ini terdapat 5 Poin dan setiap poinnya dibuat/part. Kali ini kita lanjut pada poin ke 4 […]

0 comments