Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

 

 

Seperti yang telah dikatakan pada part sebelumnya yakni “Cara Gagal Membangun Usaha Part 3” dimana tulisan “Cara Gagal Membangun Usaha” ini terdapat 5 Poin dan setiap poinnya dibuat/part.

PART III

Cara Gagal Membangun Usaha: Mengandalkan Pihak Ketiga (PART III)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Pembahasan cara gagal membangun usaha Part ketiga ini tentunya adalah lanjutan dari Part sebelumnya yakni “Selalu Berpikir Kurang Modal” di bachri.com yang bisa anda lihat dibawah ini:   Apabila dari part pertama pun anda belum membacanya atau menyimaknya, […]

0 comments

Kali ini kita lanjut pada poin ke 4 dari Cara gagal membangun usaha. Namun sebelum dilanjut, saya mau mengingatkan bagi anda yang belum menyimak part-part sebelumnya, silahkan disimak terlebih dahulu karena poin ke poin saling berhubungan. Okey kita lanjut membahas cara gagal membangun poin ke-4 yakni:

 

 

 

Asal Punya Partner

 

Jika anda muak menyimak seseorang membanggakan dirinya sendiri, maka mungkin anda akan biasa saja atau bahkan sedikit terhibur apabila ada seseorang yang menggoblok-goblokan dirinya sendiri. Baiklah, saya akan cerita tentang kisah saya yang pernah jatuh dalam lubang “kegoblokan”.

 

Begini ceritanya…

 

Eh, gak jadi deh, nanti ujung-ujungnya saya malah membangga-banggakan diri sendiri.hehe, Saya sudah bilang pada Part Pertama bahwa saya tidak akan menjadikan diri saya sebagai cerita

 

Walaupun sebenarnya saya tadinya ingin bercerita tentang kecerobohan saya memilih partner berkali-kali yang ujungnya saya ditinggal karena mereka semua jobseeker alias pencari kerja, dan akibat kejadian itu saya belajar buat website, digital marketing, copywriting, buat content, sosial media, personal branding, keuangan dan bahkan akibat kejadian itu di usia segini saya memutuskan untuk kuliah lagi di jurusan Sistem Informasi, sekarang saja baru semester 5. Sehingga saat ini saya jadi Expert Generalist. alias Bisa banyak hal tapi cuma dasar-dasarnya saja hahaha.

 

Screenshot isikado tidak ada progress

 

Tapi cerita soal itu nanti saja dan sekarang masuk ke poin nya. Poin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Pembahasan disini lebih kepada solusi apabila anda kekeuh ingin merealisasikan ide anda dengan bantuan orang lain. Padahal sudah saya singgung berkali-kali, tapi ya sudah saya mengerti, saya juga milenial dan pernah seperti itu. Salah satu jalan apabila anda ingin merealisasikan ide namun tidak punya kemampuannya adalah dengan memiliki partner yang ideal. Sudah, hanya itu jalan keluar terbaik. Sudah kan? itu sangat solutif loh.

 

Hahaha, mungkin anda mengernyitkan dahi sambil menggerutu “Kalau hanya begitu, saya sudah tahu”

 

Apa yakin anda sudah tahu? Anda tahu siapa partner yang ideal untuk anda? Okay, sekarang coba bayangkan orang yang anda kenal yang sekiranya ideal untuk anda ajak berpartner usaha.

 

Bagaimana? Siapa yang terbayang? Apakah teman dekat anda? Apakah saudara yang sangat dekat dengan anda? Atau siapapun itu yang memiliki kedekatan dengan anda?

 

Sayangnya memiliki kedekatan bukan alasan yang tepat untuk memilih partner bisnis, ini fakta, walau pahit ya harus diterima. Rian penjual Rice Bowl yang saya ceritakan para Part 2 sangat dekat dengan saya, Logo usahanya, Merk ricebowlnya, desain bannernya, itu semua saya yang buat. Namun apakah saya berpartner dengannya? Tidak!

 

 

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang     Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product […]

0 comments

 

 

Istri saya, orang yang saat ini paling dekat dengan saya, tidur dengan saya, makan semeja dengan saya, curhat, cerita, bahkan mampu memarahi saya. Namun ketika ia membangun usaha cimol mozzarella yang telah saya ceritakan pada part pertama, Apakah saya yang dia pilih untuk menjadi partnernya? Bukan, ia malah memilih Anak gadis kelas 2 SMA jurusan tata boga sebagai partner usaha cimol mozzarella nya. Ngomong-ngomong kemarin istri saya baru open PO lagi dan terjual sekitar 50 bungkus lebih mozzarella. Bagi kalian yang mau cobain bisa dilihat saja langsung instagramnya @yukbeli.mozza

 

 

Baiklah, kita lanjut ya…

 

Jadi hanya karena memiliki kedekatan emosional bukan berarti bisa menjadi alasan yang tepat untuk berpartner dalam usaha. Karena memang begitu faktanya! Ada banyak sekali pertimbangan dalam memilih partner yang ideal, bahkan “KESAMAAN VISI” saja tidaklah cukup. Hal ini menjadi cara paling mudah untuk menggagalkan usaha, yakni adalah asal-asalan dalam memilih partner.

 

Hanya karena orang itu dekat, hanya karena orang itu nyambung ketika diajak ngobrol tentang ide atau mungkin hanya karena orang tersebut berkontribusi menyumbang saran dan sumbang ide, Apakah itu cukup menjadi alasan bahwa mereka adalah partner ideal dalam usaha?

 

Tentu anda sudah tahu bahwa jawaban yang akan saya sampaikan adalah “Tidak”.

 

Bahkan lebih parah lagi ketika anda menjadikan mereka partner bisnis hanya karena alasan-alasan tersebut, itu namanya anda asal-asalan ketika memilih partner, asal punya partner!

 

Padahal belum tentu mereka berguna bagi usaha anda, bisa jadi yang sebenarnya anda butuh dari mereka hanyalah dukungan sehingga dapat menguatkan mental dan psikis anda untuk membangun usaha. Dan bisa jadi peran mereka justru tidak anda butuhkan sampai pada berkontribusi akan usaha yang mau anda jalankan.

 

Mereka-mereka yang saya sebut di atas dapat menjadi partner yang ideal bagi usaha anda hanya apabila mereka memiliki hal-hal seperti yang akan saya sebutkan setelah ini, jika kurang satu saja dari hal yang akan saya jabarkan selanjutnya, maka mereka BUKAN PARTNER IDEAL! Ingat itu ya? okay berikut ini ciri partner ideal:

 

 

Mampu menerima dan mengelola resiko

 

Inilah alasan kenapa saya bilang saya ceroboh ketika memilih partner yang jiwanya job seeker atau pencari kerja. Hampir semua yang berjiwa jobseeker, tidak akan pernah mampu menerima ketidak pastian. Yang mereka ingin adalah penghasilan yang pasti atau gaji, sedangkan usaha rintisan dapat dipastikan akan sangat akrab dengan ketidakpastian dan ketidakstabilan.

 

Yang namanya usaha apalagi usaha rintisan akan selalu memiliki potensi rugi, tidak profit, sepi penjualan, owner harus berkorban uang pribadi untuk usaha agar survive, tutup, bahkan bangkrut, itu semua terdapat pada usaha.

 

Apakah jobseeker mampu menerima itu? saya rasa tidak! Angka gaji turun saja mungkin mereka akan teriak, mengeluh, mencari kesempatan lain yang mereka anggap hasilnya lebih pasti.

 

Berpartner lah dengan yang jiwanya pengusaha juga, jadi keduanya sama-sama harus siap “babak belur” di awal-awal membangun usaha serta siap dengan segala resiko yang ada.

 

 

Melengkapi Kompetensi

 

Partner ideal bukanlah mereka yang memiliki kemampuan yang sama bahkan beririsan. Adanya dua orang dengan kemampuan memasak, yang memutuskan berpartner untuk membuat usaha kuliner tidak akan jalan tanpa adanya yang memiliki kemampuan pemasaran.   Istri saya dan si Bimbi yang saya ceritakan pada artikel “Cara Gagal Membangun Usaha”  Part pertama, memang keduanya bisa memasak, tapi itu tidak cukup! Tanpa kemampuan pemasaran yang dimiliki istri saya, Cimol Mozzarella hanya akan dibuat untuk saya cemili, hehehe.

 

PART I
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2

Cara Gagal Membangun Usaha: Tidak Melakukan 3 Tahap Awal (PART I)

  Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Sebelum saya memulai pembahasan cara gagal membangun usaha, saya ingin memberikan peringatan bahwa tulisan satu ini adalah salah satu tulisan paling panjang yang pernah saya buat. Namun saya pastikan untuk anda, terutama anda yang saat ini sedang […]

0 comments

 

Mereka berdua pun siap dengan ketidakpastian dan ketidakstabilan, istri saya masih dapat jatah nafkah ekonomi dari saya, si Bimbi masih tanggung jawab orang tuanya. Ketika mereka buka PO dan sedang sepi pembeli pun, mereka tinggal lanjut ngobrol sambil ngemil cemilan kekinian yang lagi hits.

 

Contoh lagi misalnya dua orang dengan keahlian yang terkesan berbeda, yang satu ahli dalam facebook ads dan yang satu ahli dalam Google Adwords, ketika mereka berpartner untuk membuat usaha berbasis digital, tidak akan jalan tanpa adanya keahlian programmer. Secara platform yang diolah memang beda, yang satu google, yang satu lagi facebook. Tapi bidang keduanya masih digital marketing.

 

Bahkan jika pun mereka memutuskan untuk membuat usaha jasa periklanan online, tidak akan jalan apabila tidak ada yang bisa membuat konten dari iklannya seperti foto, video, graphic design, dsb. Mereka masih membutuhkan peran videographer, photographer, copywriter, content creator dan lainnya.

 

Selain harus mampu menerima dan mengelola resiko, Partner ideal adalah mereka yang bisa saling melengkapi kompetensi yang tidak dimiliki satu sama lain. Apakah orang-orang terdekat yang ingin anda jadikan partner itu mampu melengkapi kompetensi yang anda tidak punya? Jika sama saja, sebaiknya cukup minta dukungan moral saja dari mereka, tidak harus sampai menjadi partner usaha.

 

 

Relevan sesuai tahapan usaha

 

Misal orang terdekat yang ingin anda jadikan partner ideal itu memang berjiwa pengusaha, lalu memiliki kompetensi yang bisa melengkapi anda, Apakah itu cukup menjadi alasan untuk kalian bersepakat menjadi partner usaha? Tunggu! Masih ada seleksi selanjutnya, yakni relevansi. Lihat posisi usaha anda, Sedang ada di tahapan mana? Apakah sedang dalam tahap membangun produk awal? Jika anda seorang ahli dalam pemasaran, anda belum butuh sahabat anda yang memiliki kompetensi di bidang accounting untuk membuat rendang kemasan sebagai partner, yang lebih anda butuhkan adalah tetangga anda yang bisa masak rendang.

 

Tapi masalahnya tetangga anda itu menyebalkan, suka gibahin anda di tukang sayur. Ya bagaimana lagi? produk yang mau anda buat itu rendang, anda punya kemampuan pemasaran, usaha anda baru tahap development, ya anda butuh yang bisa masak rendang. Saudara anda yang akunting bergunanya nanti di tahap Early Growth. Tapi tunggu dulu, misal ternyata saudara anda punya teman yang terkenal jago masak rendang, Berarti pas dong bertiga? udah cocok dong berpartner?

 

Ya tetap saja, yang cocok itu anda dan temannya saudara anda yang jago masak rendang. Jangan paksakan orang yang belum relevan pada tahapan usaha yang mau anda jalankan. Memang saudara anda yang akunting suatu saat akan berguna saat usaha anda mencapai tahap early growth dan ekspansi, tapi kan belum tentu kan usaha anda sampai ke tahap tersebut?

 

Bisa jadi begitu anda berhasil membuat produk rendang kemasan, begitu anda masuk tahap product market fit, anda mulai memasarkan, ternyata stop sampai disitu karena rendangnya tidak tahan lama.

 

Jadi jangan hanya karena rasa tidak enak hati anda terpaksa menerima orang yang belum berguna untuk menjadi partner anda, kecuali dia punya kompetensi lain yang relevan, misalnya selain bisa akunting, ia siap mendanai usaha anda tersebut. Ya boleh lah dipertimbangkan. Jika begitupun berarti relevansinya ada, ia relevan di tahap develop, karena memang uang dibutuhkan sebagai pendukung berdirinya usaha anda.

 

Di atas itu hanya simulasi, contoh kasus, bukan berarti saya sengaja membahas anda yang membaca dan kebetulan memang ingin usaha rendang kemasan. hehehe

 

Ketiga hal tersebut, adalah syarat partner ideal. Apakah orang-orang yang selama ini anda anggap ideal itu sudah berjiwa pengusaha? kompetensinya melengkapi anda? Relevan terhadap usaha anda? jika tidak, jangan ragu untuk menepikan mereka ke bagian “pemberi dukungan moral” bukan menyertakan mereka ke dalam usaha anda hanya karena kedekatan emosional.

 

Bagaimana? sulit kan mencari partner bisnis ideal? Beruntung sekali istri saya bisa menemukan bimbi sebagai partner usaha cimol mozzarella. Ya, benar! Beruntung… Karena mencari partner bisnis yang ideal itu sama dengan mencari keberuntungan.

 

Semoga suatu saat nanti anda beruntung, jika belum, sendiri dulu tidak masalah. Percayalah jualan kopi keliling dengan sepeda itu tidak butuh partner dan hasilnya juga lumayan.

 

“Lho kok gitu ?”

 

***

 

Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 1 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”, Artikel ini masih akan berlanjut ke PART V. Nantikan update selanjutnya segera!