Dampak Penggunaan Smartphone Terhadap Produktivitas dan Kesehatan Mental Serta Solusinya

Menurut sumber dari situs berita suara.com jumlah perangkat seluler di Indonesia mencapai 370,1 juta pada tahun 2022 dan jumlah pengguna Internet di Indonesia mencapai 210 juta pada tahun 2022 menurut situs berita Kompas.

 

Dilansir dari website resmi Appanie pengguna Smartphone di Indonesia menghabiskan 5,5 jam sehari menggunakan aplikasi seluler, padahal Studi terbaru yang dilakukan Queensland University of Technology, mengungkap jika penggunaan Smartphone dalam waktu yang berlebih akan membuat pengguna tidak produktif dan cepat lelah.

 

Data-data tersebut membuat penulis ingin mengetahui lebih lanjut dampak penggunaan Smartphone terhadap tingkat produktivitas bahkan hingga dampak kepada kesehatan mental. Serta penulis ingin memberikan gagasan yang dapat menjadi solusi efektif dan dapat diwujudkan secepat-cepatnya terhadap dampak-dampak tersebut.

 

Penggunaan Smartphone yang optimal

 

Peneliti dari University of Oxford mengungkapkan Idealnya durasi untuk melakukan aktivitas online adalah sepanjang 4 jam 17 menit atau 257 menit dalam sehari. Hal ini diungkapkan dari hasil hitung-hitungan peneliti tersebut. Lebih dari durasi tersebut, peneliti meyakini bahwa gadget dianggap mampu mengganggu kinerja otak.

 

Penelitian tersebut dilakukan pada remaja, beda halnya dengan durasi optimal untuk anak-anak  usia di bawah 2 tahun yang disarankan tidak diberikan akses pada gadget sama sekali. Namun apabila benar-benar diperlukan, anak usia di atas 1,5 tahun dapat mengakses gadget dengan didampingi orangtua dan tidak lebih dari 1 jam per hari. Sedangkan anak-anak berusia 2-5 tahun disarankan mengakses gadget hanya 1 jam per hari dan anak usia 6 tahun ke atas boleh bermain gadget, tapi dengan waktu yang sudah disepakati bersama orang tua, misalnya pada akhir pekan atau maksimal 2 jam perhari. 

 

Kemudian bagaimana penggunaan Smartphone yang optimal pada usia dewasa? 

Untuk usia dewasa justru lebih fleksibel, namun orang dewasa diharapkan lebih menyadari dan mampu mengontrol pemakaian ponselnya sendiri.

 

Dampak Penggunaan Smartphone Berlebihan

 

Meskipun menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), radiasi gelombang radio dan elektromagnetik yang dipancarkan oleh Smartphone masih tergolong aman. Namun penggunaan Smartphone berlebihan dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan, antara lain sebagai berikut:

Gangguan Tidur

 

Penggunaan Smartphone berlebihan dapat menyebabkan gangguan tidur seperti insomnia. Hal ini diamini oleh American Optometric Association yang mengungkapkan bahwa paparan cahaya biru dari layar pada malam hari dapat menghambat hormon melatonin, sehingga berdampak pada mudahnya terkena insomnia.

Masalah Pengelihatan

 

Dilansir dari situs 21st Century Repairs bahwa dampak negatif terhadap penggunaan Smartphone secara berlebihan dapat menyebabkan masalah pada indra penglihatan yakni mata.

Postur Tubuh Tidak Ideal

 

Penggunaan Smartphone serta gadget lainnya secara berlebihan, dapat menyebabkan dampak negatif terhadap postur tubuh. Hal ini diungkapkan melalui penelitian dari Journal of Physical Therapy Science.

 

Gangguan Tumbuh Kembang Pada Anak

 

Penggunaan Smartphone berlebihan pada anak dapat menghambat perkembangan komunikasi anak, sosial serta bahasa. Hal ini diungkapkan oleh studi yang diterbitkan oleh STRADA Jurnal Ilmiah Kesehatan.

 

Gangguan Pada Kesehatan Mental

 

Gangguan kesehatan mental juga dapat dipicu oleh penggunaan Smartphone yang berlebihan, seperti contoh Low-Bat Anxiety (LBA) yang dimana menurut survei dari perusahaan LG bahwa 90% dari 2000 orang mengalami LBA dimana ditemukan dalam survei tersebut bahwa baterai yang lemah memberikan ancaman tersendiri bagi pengguna yang keranjingan Smartphone. Penderita LBA seringkali mengalami panik ketika baterai Smartphone menunjukan angka kritis. 

 

Selain LBA, Sebuah penelitian di Georgia Institute Of Technology menemukan bahwa 9 dari 10 pengguna Smartphone mengalami gangguan yang dinamakan Phantom Vibration Syndrome atau Ringxiety dimana keadaan ini menunjukan bahwa pengguna Smartphone merasakan getaran dari telepon dan sedikit kedutan pada otot saat meletakan Smartphone tersebut di dalam saku.

 

Gangguan mental yang lebih parah adalah Nomophobia atau no mobile phone phobia (NMP) adalah jenis gangguan kecemasan akibat tidak memegang ponsel yang dimana istilah tersebut pertama kali diungkapkan oleh studi yang diterbitkan pada Indian Journal of Psychiatry.

 

Solusi Penggunaan Smartphone Agar Optimal

 

Penulis telah menerapkan langkah-langkah berikut yang menurut penulis menjadi langkah termudah yang dapat dilakukan untuk meminimalisir penggunaan Smartphone berlebihan sehingga Smartphone dapat digunakan secara optimal, langkah-langkah tersebut adalah dengan menggunakan bantuan aplikasi-aplikasi yang sudah ada, seperti yang akan penulis bahas berikut ini:

 

Mengganti Launcher

 

Slimlauncher Sumber Gambar: slimlauncher.com

 

Seringkali logo dari aplikasi-aplikasi di Smartphone seperti Sosial Media terasa menggoda untuk diklik. Ketika pengguna Smartphone sudah membuka aplikasi-aplikasi tersebut, tidak jarang pengguna justru sulit untuk menghentikan kegiatan scrolling pada media sosial karena terus disajikan konten-konten menarik oleh Algoritma Sosial Media. Hasil Studi terbaru dari Americas’ Conference on Information Systems (AMCIS) 2020 menyebutkan bahwa logo media sosial memicu reaksi “Spontaneous Hedonic” dari pengguna, dimana itu artinya logo sosial media sangat mempengaruhi pengguna untuk segera klik dan menggunakan sosial media ketika dilihat ataupun terlihat. 

 

Guna menghindari distraksi yang dipicu oleh pintu masuk awal aplikasi-aplikasi Smartphone yakni logo-logonya, upaya yang bisa dilakukan adalah menghilangkan logo pada aplikasi-aplikasi tersebut dengan mengganti Launcher pada Smartphone. Seperti menggunakan launcher dengan tema minimalis contoh Slim Launcher yang hanya menampilkan teks dari nama-nama aplikasi yang terpasang di Smartphone dan hanya menampilkan maksimal tiga aplikasi yang paling sering dibuka pada halaman depan atau awalnya. 

 

Menginstall Pemblokir Notifikasi Sementara

 

notif cleaner

Sumber Gambar: modyolo.com

 

Mengutip dari medcom.id yang melansir Bustle bahwa seorang psikolog bernama Dr. Sanam Hafeez mengungkapkan bahwa dampak terhadap otak yang disebabkan oleh notifikasi digital yang muncul pada Smartphone cukup beragam. Dari mulai memicu kecemasan dan stress, memaksa otak mengirim sinyal darurat ke tubuh serta keinginan untuk mengecek Smartphone terus menerus. 

 

Tak hanya itu, berdasarkan studi terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Florida State University, seperti yang dilansir dari DigitalTrends. Menurut para peneliti, notifikasi Smartphone berkontribusi paling besar dalam penurunan produktivitas seseorang setiap harinya. 

 

Sebab itulah, untuk meminimalisir distraksi dari Smartphone, mengganti launcher saja tidaklah cukup! Aplikasi lain yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal tersebut adalah Aplikasi Pemblokir Notifikasi sementara seperti Notification Blocker & Cleaner. Dengan menginstall aplikasi ini, pengguna Smartphone dapat terhindar dari notifikasi-notifikasi yang terlalu sering muncul tanpa menghilangkan riwayat dari notifikasi tersebut. Yang artinya ketika pengguna memiliki waktu senggang di luar aktivitas padat, notifikasi tersebut masih dapat dilihat kembali. 

Mempersulit Akses Aplikasi Tertentu

 

Mudahnya membuka aplikasi-aplikasi Smartphone seringkali membuat penggunanya menjadi lalai dalam menggunakan Smartphone. Guna semakin membuat pengguna tidak mudah untuk mengakses aplikasi, maka langkah yang bisa dilakukan adalah mempersulit akses untuk menggunakan aplikasi tertentu yang seringkali membuat pengguna tergoda untuk membukanya seperti Sosial Media, Youtube, Netflix, dsb.

 

Contoh mempersulit akses menuju aplikasi tertentu adalah dengan harus menginput password ketika ingin membuka aplikasi tertentu atau menyembunyikan aplikasi tertentu di saat sedang melakukan aktivitas yang menuntut produktivitas seperti bekerja, belajar ataupun berkarya. 

 

Dengan mempersulit akses menuju aplikasi yang seringkali membuat pengguna tergoda untuk membukanya, setidaknya membuat pengguna harus berupaya lebih untuk membuka aplikasi tersebut. Sehingga jika tidak memiliki urgensi, pengguna dapat mengurungkan niatnya. 

 

Kesimpulan

 

Solusi di atas dirasa cukup efektif untuk membuat pengguna Smartphone menggunakan Smartphone secara bijak dan optimal. Namun di luar itu semua, hal yang harus pertama kali ditimbulkan adalah kesadaran dari pengguna Smartphone itu masing-masing, Apakah pengguna dapat memposisikan ponsel layaknya sikat gigi? dimana pengguna dapat menggunakan sebagaimana fungsinya dan hanya digunakan ketika benar-benar dibutuhkan.

 

Catatan:

Artikel ini ditulis untuk berpartisipasi dalam lomba menulis creative yang diadakan oleh amikom.ac.id

Leave a Comment

Your email address will not be published.