Cara Gagal Membangun Usaha:  Asal Punya Partner (PART IV)

Cara Gagal Membangun Usaha: Asal Punya Partner (PART IV)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

 

 

Seperti yang telah dikatakan pada part sebelumnya yakni “Cara Gagal Membangun Usaha Part 3” dimana tulisan “Cara Gagal Membangun Usaha” ini terdapat 5 Poin dan setiap poinnya dibuat/part.

PART III

Cara Gagal Membangun Usaha: Mengandalkan Pihak Ketiga (PART III)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Pembahasan cara gagal membangun usaha Part ketiga ini tentunya adalah lanjutan dari Part sebelumnya yakni “Selalu Berpikir Kurang Modal” di bachri.com yang bisa anda lihat dibawah ini:   Apabila dari part pertama pun anda belum membacanya atau menyimaknya, […]

0 comments

Kali ini kita lanjut pada poin ke 4 dari Cara gagal membangun usaha. Namun sebelum dilanjut, saya mau mengingatkan bagi anda yang belum menyimak part-part sebelumnya, silahkan disimak terlebih dahulu karena poin ke poin saling berhubungan. Okey kita lanjut membahas cara gagal membangun poin ke-4 yakni:

 

 

 

Asal Punya Partner

 

Jika anda muak menyimak seseorang membanggakan dirinya sendiri, maka mungkin anda akan biasa saja atau bahkan sedikit terhibur apabila ada seseorang yang menggoblok-goblokan dirinya sendiri. Baiklah, saya akan cerita tentang kisah saya yang pernah jatuh dalam lubang “kegoblokan”.

 

Begini ceritanya…

 

Eh, gak jadi deh, nanti ujung-ujungnya saya malah membangga-banggakan diri sendiri.hehe, Saya sudah bilang pada Part Pertama bahwa saya tidak akan menjadikan diri saya sebagai cerita

 

Walaupun sebenarnya saya tadinya ingin bercerita tentang kecerobohan saya memilih partner berkali-kali yang ujungnya saya ditinggal karena mereka semua jobseeker alias pencari kerja, dan akibat kejadian itu saya belajar buat website, digital marketing, copywriting, buat content, sosial media, personal branding, keuangan dan bahkan akibat kejadian itu di usia segini saya memutuskan untuk kuliah lagi di jurusan Sistem Informasi, sekarang saja baru semester 5. Sehingga saat ini saya jadi Expert Generalist. alias Bisa banyak hal tapi cuma dasar-dasarnya saja hahaha.

 

Screenshot isikado tidak ada progress

 

Tapi cerita soal itu nanti saja dan sekarang masuk ke poin nya. Poin ini masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Pembahasan disini lebih kepada solusi apabila anda kekeuh ingin merealisasikan ide anda dengan bantuan orang lain. Padahal sudah saya singgung berkali-kali, tapi ya sudah saya mengerti, saya juga milenial dan pernah seperti itu. Salah satu jalan apabila anda ingin merealisasikan ide namun tidak punya kemampuannya adalah dengan memiliki partner yang ideal. Sudah, hanya itu jalan keluar terbaik. Sudah kan? itu sangat solutif loh.

 

Hahaha, mungkin anda mengernyitkan dahi sambil menggerutu “Kalau hanya begitu, saya sudah tahu”

 

Apa yakin anda sudah tahu? Anda tahu siapa partner yang ideal untuk anda? Okay, sekarang coba bayangkan orang yang anda kenal yang sekiranya ideal untuk anda ajak berpartner usaha.

 

Bagaimana? Siapa yang terbayang? Apakah teman dekat anda? Apakah saudara yang sangat dekat dengan anda? Atau siapapun itu yang memiliki kedekatan dengan anda?

 

Sayangnya memiliki kedekatan bukan alasan yang tepat untuk memilih partner bisnis, ini fakta, walau pahit ya harus diterima. Rian penjual Rice Bowl yang saya ceritakan para Part 2 sangat dekat dengan saya, Logo usahanya, Merk ricebowlnya, desain bannernya, itu semua saya yang buat. Namun apakah saya berpartner dengannya? Tidak!

 

 

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang     Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product […]

0 comments

 

 

Istri saya, orang yang saat ini paling dekat dengan saya, tidur dengan saya, makan semeja dengan saya, curhat, cerita, bahkan mampu memarahi saya. Namun ketika ia membangun usaha cimol mozzarella yang telah saya ceritakan pada part pertama, Apakah saya yang dia pilih untuk menjadi partnernya? Bukan, ia malah memilih Anak gadis kelas 2 SMA jurusan tata boga sebagai partner usaha cimol mozzarella nya. Ngomong-ngomong kemarin istri saya baru open PO lagi dan terjual sekitar 50 bungkus lebih mozzarella. Bagi kalian yang mau cobain bisa dilihat saja langsung instagramnya @yukbeli.mozza

 

 

Baiklah, kita lanjut ya…

 

Jadi hanya karena memiliki kedekatan emosional bukan berarti bisa menjadi alasan yang tepat untuk berpartner dalam usaha. Karena memang begitu faktanya! Ada banyak sekali pertimbangan dalam memilih partner yang ideal, bahkan “KESAMAAN VISI” saja tidaklah cukup. Hal ini menjadi cara paling mudah untuk menggagalkan usaha, yakni adalah asal-asalan dalam memilih partner.

 

Hanya karena orang itu dekat, hanya karena orang itu nyambung ketika diajak ngobrol tentang ide atau mungkin hanya karena orang tersebut berkontribusi menyumbang saran dan sumbang ide, Apakah itu cukup menjadi alasan bahwa mereka adalah partner ideal dalam usaha?

 

Tentu anda sudah tahu bahwa jawaban yang akan saya sampaikan adalah “Tidak”.

 

Bahkan lebih parah lagi ketika anda menjadikan mereka partner bisnis hanya karena alasan-alasan tersebut, itu namanya anda asal-asalan ketika memilih partner, asal punya partner!

 

Padahal belum tentu mereka berguna bagi usaha anda, bisa jadi yang sebenarnya anda butuh dari mereka hanyalah dukungan sehingga dapat menguatkan mental dan psikis anda untuk membangun usaha. Dan bisa jadi peran mereka justru tidak anda butuhkan sampai pada berkontribusi akan usaha yang mau anda jalankan.

 

Mereka-mereka yang saya sebut di atas dapat menjadi partner yang ideal bagi usaha anda hanya apabila mereka memiliki hal-hal seperti yang akan saya sebutkan setelah ini, jika kurang satu saja dari hal yang akan saya jabarkan selanjutnya, maka mereka BUKAN PARTNER IDEAL! Ingat itu ya? okay berikut ini ciri partner ideal:

 

 

Mampu menerima dan mengelola resiko

 

Inilah alasan kenapa saya bilang saya ceroboh ketika memilih partner yang jiwanya job seeker atau pencari kerja. Hampir semua yang berjiwa jobseeker, tidak akan pernah mampu menerima ketidak pastian. Yang mereka ingin adalah penghasilan yang pasti atau gaji, sedangkan usaha rintisan dapat dipastikan akan sangat akrab dengan ketidakpastian dan ketidakstabilan.

 

Yang namanya usaha apalagi usaha rintisan akan selalu memiliki potensi rugi, tidak profit, sepi penjualan, owner harus berkorban uang pribadi untuk usaha agar survive, tutup, bahkan bangkrut, itu semua terdapat pada usaha.

 

Apakah jobseeker mampu menerima itu? saya rasa tidak! Angka gaji turun saja mungkin mereka akan teriak, mengeluh, mencari kesempatan lain yang mereka anggap hasilnya lebih pasti.

 

Berpartner lah dengan yang jiwanya pengusaha juga, jadi keduanya sama-sama harus siap “babak belur” di awal-awal membangun usaha serta siap dengan segala resiko yang ada.

 

 

Melengkapi Kompetensi

 

Partner ideal bukanlah mereka yang memiliki kemampuan yang sama bahkan beririsan. Adanya dua orang dengan kemampuan memasak, yang memutuskan berpartner untuk membuat usaha kuliner tidak akan jalan tanpa adanya yang memiliki kemampuan pemasaran.   Istri saya dan si Bimbi yang saya ceritakan pada artikel “Cara Gagal Membangun Usaha”  Part pertama, memang keduanya bisa memasak, tapi itu tidak cukup! Tanpa kemampuan pemasaran yang dimiliki istri saya, Cimol Mozzarella hanya akan dibuat untuk saya cemili, hehehe.

 

PART I
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2

Cara Gagal Membangun Usaha: Tidak Melakukan 3 Tahap Awal (PART I)

  Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Sebelum saya memulai pembahasan cara gagal membangun usaha, saya ingin memberikan peringatan bahwa tulisan satu ini adalah salah satu tulisan paling panjang yang pernah saya buat. Namun saya pastikan untuk anda, terutama anda yang saat ini sedang […]

0 comments

 

Mereka berdua pun siap dengan ketidakpastian dan ketidakstabilan, istri saya masih dapat jatah nafkah ekonomi dari saya, si Bimbi masih tanggung jawab orang tuanya. Ketika mereka buka PO dan sedang sepi pembeli pun, mereka tinggal lanjut ngobrol sambil ngemil cemilan kekinian yang lagi hits.

 

Contoh lagi misalnya dua orang dengan keahlian yang terkesan berbeda, yang satu ahli dalam facebook ads dan yang satu ahli dalam Google Adwords, ketika mereka berpartner untuk membuat usaha berbasis digital, tidak akan jalan tanpa adanya keahlian programmer. Secara platform yang diolah memang beda, yang satu google, yang satu lagi facebook. Tapi bidang keduanya masih digital marketing.

 

Bahkan jika pun mereka memutuskan untuk membuat usaha jasa periklanan online, tidak akan jalan apabila tidak ada yang bisa membuat konten dari iklannya seperti foto, video, graphic design, dsb. Mereka masih membutuhkan peran videographer, photographer, copywriter, content creator dan lainnya.

 

Selain harus mampu menerima dan mengelola resiko, Partner ideal adalah mereka yang bisa saling melengkapi kompetensi yang tidak dimiliki satu sama lain. Apakah orang-orang terdekat yang ingin anda jadikan partner itu mampu melengkapi kompetensi yang anda tidak punya? Jika sama saja, sebaiknya cukup minta dukungan moral saja dari mereka, tidak harus sampai menjadi partner usaha.

 

 

Relevan sesuai tahapan usaha

 

Misal orang terdekat yang ingin anda jadikan partner ideal itu memang berjiwa pengusaha, lalu memiliki kompetensi yang bisa melengkapi anda, Apakah itu cukup menjadi alasan untuk kalian bersepakat menjadi partner usaha? Tunggu! Masih ada seleksi selanjutnya, yakni relevansi. Lihat posisi usaha anda, Sedang ada di tahapan mana? Apakah sedang dalam tahap membangun produk awal? Jika anda seorang ahli dalam pemasaran, anda belum butuh sahabat anda yang memiliki kompetensi di bidang accounting untuk membuat rendang kemasan sebagai partner, yang lebih anda butuhkan adalah tetangga anda yang bisa masak rendang.

 

Tapi masalahnya tetangga anda itu menyebalkan, suka gibahin anda di tukang sayur. Ya bagaimana lagi? produk yang mau anda buat itu rendang, anda punya kemampuan pemasaran, usaha anda baru tahap development, ya anda butuh yang bisa masak rendang. Saudara anda yang akunting bergunanya nanti di tahap Early Growth. Tapi tunggu dulu, misal ternyata saudara anda punya teman yang terkenal jago masak rendang, Berarti pas dong bertiga? udah cocok dong berpartner?

 

Ya tetap saja, yang cocok itu anda dan temannya saudara anda yang jago masak rendang. Jangan paksakan orang yang belum relevan pada tahapan usaha yang mau anda jalankan. Memang saudara anda yang akunting suatu saat akan berguna saat usaha anda mencapai tahap early growth dan ekspansi, tapi kan belum tentu kan usaha anda sampai ke tahap tersebut?

 

Bisa jadi begitu anda berhasil membuat produk rendang kemasan, begitu anda masuk tahap product market fit, anda mulai memasarkan, ternyata stop sampai disitu karena rendangnya tidak tahan lama.

 

Jadi jangan hanya karena rasa tidak enak hati anda terpaksa menerima orang yang belum berguna untuk menjadi partner anda, kecuali dia punya kompetensi lain yang relevan, misalnya selain bisa akunting, ia siap mendanai usaha anda tersebut. Ya boleh lah dipertimbangkan. Jika begitupun berarti relevansinya ada, ia relevan di tahap develop, karena memang uang dibutuhkan sebagai pendukung berdirinya usaha anda.

 

Di atas itu hanya simulasi, contoh kasus, bukan berarti saya sengaja membahas anda yang membaca dan kebetulan memang ingin usaha rendang kemasan. hehehe

 

Ketiga hal tersebut, adalah syarat partner ideal. Apakah orang-orang yang selama ini anda anggap ideal itu sudah berjiwa pengusaha? kompetensinya melengkapi anda? Relevan terhadap usaha anda? jika tidak, jangan ragu untuk menepikan mereka ke bagian “pemberi dukungan moral” bukan menyertakan mereka ke dalam usaha anda hanya karena kedekatan emosional.

 

Bagaimana? sulit kan mencari partner bisnis ideal? Beruntung sekali istri saya bisa menemukan bimbi sebagai partner usaha cimol mozzarella. Ya, benar! Beruntung… Karena mencari partner bisnis yang ideal itu sama dengan mencari keberuntungan.

 

Semoga suatu saat nanti anda beruntung, jika belum, sendiri dulu tidak masalah. Percayalah jualan kopi keliling dengan sepeda itu tidak butuh partner dan hasilnya juga lumayan.

 

“Lho kok gitu ?”

 

***

 

Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 1 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”, Artikel ini masih akan berlanjut ke PART V. Nantikan update selanjutnya segera!

 

Cara Gagal Membangun Usaha: Mengandalkan Pihak Ketiga (PART III)

Cara Gagal Membangun Usaha: Mengandalkan Pihak Ketiga (PART III)


Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

Pembahasan cara gagal membangun usaha Part ketiga ini tentunya adalah lanjutan dari Part sebelumnya yakni “Selalu Berpikir Kurang Modal” di bachri.com yang bisa anda lihat dibawah ini:

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang     Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product […]

0 comments

 

Apabila dari part pertama pun anda belum membacanya atau menyimaknya, sebaiknya anda harus mengawali dari situ, dimana saya membahas bagaimana 3 tahap awal usaha yang sering luput dari kegiatan usaha pemula, sehingga saat mereka memulai usaha kemudian mengabaikan 3 tahap awak tersebut, seringkali itulah yang menjadi cara mereka gagal membangun usaha.

 

PART I
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2

Cara Gagal Membangun Usaha: Tidak Melakukan 3 Tahap Awal (PART I)

  Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Sebelum saya memulai pembahasan cara gagal membangun usaha, saya ingin memberikan peringatan bahwa tulisan satu ini adalah salah satu tulisan paling panjang yang pernah saya buat. Namun saya pastikan untuk anda, terutama anda yang saat ini sedang […]

0 comments

 

Cara Gagal Membangun Usaha ini terdiri dari 5 poin dan karena setiap poin-nya lumayan cukup panjang pembahasannya, makanya saya membaginya menjadi beberapa part. Baiklah, kali ini langsung saja saya akan membahas poin ketiga dari Cara Gagal Membangun Usaha yaitu:

 

Mengandalkan Pihak Ketiga

 

Keinginan membuat usaha sebaiknya ditunda sampai para pendirinya bisa membuat produk utama dengan tangan mereka sendiri. Hal tersebut mungkin terkesan kontroversial mengingat saat ini banyak sekali yang berwirausaha dengan mengandalkan produk orang lain. Seperti agen, warung sembako, reseller, dropshipper dan sebagainya. Namun konteks wirausaha yang dimaksud disini adalah yang memang diniatkan untuk besar dan menjadi sebuah perusahaan berbentuk badan sehingga terpisahlah keuangan pribadi dengan uang perusahaan,bukan yang hanya sekedar ‘asal bisa makan’. Bicara usaha tidak boleh sesempit itu walaupun memang ada tahapan.

 

Mungkin juga akan terdapat sanggahan seperti “ya, tapi kan juga banyak perusahaan besar yang mengandalkan produk orang lain. Seperti misalnya usaha retail, swalayan, dsb.”

 

Kalau soal itu berbeda ya, itu bicara soal kebutuhan, seperti soal retail, swalayan dan sebagainya, yang disediakan mereka kan justru wadah atau tempat yang strategis untuk menjajakan produk, jadi supplier produk yang lebih dominan membutuhkan mereka. Swalayan dan Retail sendiri ya butuh, hanya saja tidak jadi kerjasama tidak apa-apa juga kan? toh nama mereka masih ada, wadah mereka juga masih utuh dan banyak produk lain juga yang masih butuh.

 

Ini kenapa jadi bicarain swalayan dan retail? Sudah keluar dari substansi nih, hehehe. Sebenarnya bukan poin itu yang ingin diangkat. Baiklah langsung saja saya berikan anda Screenshot Chat

 

Screenshot Startup Terhenti

 

 

Screenshot startup terhenti 2

 

 

Sudah lihat screenshot chat di atas? Ya, saya mau langsung membawa anda kepada kisah menarik dari salah satu teman saya yang tidak mau disebutkan namanya. Pada screenshot tersebut saya telah meminta izin namun ia tidak berani disebutkan namanya dan perusahaannya, Karena ini kisah berhentinya sebuah perusahaan rintisan berbasis digital alias startup. Ya, startup yang mungkin saja tidak pernah anda dengar sebelumnya dan juga tidak akan saya sebutkan disini.

 

Setelah dikroscek startup itu ternyata benar pernah eksis dan pernah ada, meskipun websitenya sudah tidak bisa dibuka, berita beberapa kali muncul di media online sudah berbadan PT,  dibangun oleh sebuah komunitas yang jumlahnya ratusan orang hasil urun dana. Bahkan setelah saya kroscek ke sosial media, RUPS alias Rapat Umum Pemegang Saham banyak sekali founder. Ya, ratusan orang itu menyebut diri mereka founder dan tergabung dalam group sendiri yang salah satunya adalah teman saya tersebut. Jika dengar permasalahannya dari curhatan teman saya itu sangatlah kompleks, namun pada intinya startup itu harus terhenti sementara akar masalahnya adalah karena menurut teman saya tahap develop startup tersebut ditinggal sama orang IT yang posisinya sebagai karyawan dan pencetus utama trauma untuk rekrut orang IT lagi.

 

Hanya karena ditinggal beberapa orang, ratusan orang yang disebut founder itu sekarang harus menunggu sambil berharap? Dari ratusan founder apakah tidak ada satupun yang punya kemampuan web development? Atau mungkin punya namun berharap ada pihak lain yang bisa menyelesaikannya? Saya bingung sendiri membatin dalam hati, agak tidak masuk akal namun itu nyata.

 

Ini contoh kasus yang menarik, benar bahwa kata steve jobs.

 

Bila para pendiri tidak bisa membuat produk awal dengan tangan mereka sendiri, maka mereka tidak pantas mendirikan sebuah usaha

 

Ya, jadi kalimat yang mengawali poin ini saya sadur dan saya perhalus dari kalimat Steve Jobs. hehehe

 

Balik ke kisah Startup yang terhenti, hal ini benar sungguh menarik untuk dibahas. Kalau tidak menarik, tidak mungkin saya sampai minta izin ke teman saya untuk saya angkat. Makin kuatlah poin sebelumnya bahwa modal uang bukanlah yang utama, buktinya ya si startup yang sedang dibahas kali ini. Ratusan orang urun dana dan diposisikan sebagai pendiri, gimana bisa kurang uangnya?

 

Namun itu dapat menjadi contoh kasus yang bisa diambil esensinya bahwa Mengandalkan Pihak Ketiga sebagai cara gagal membangun usaha. Kejadian itu bukan hanya terjadi pada apa yang dialami teman saya itu saja, itu hanya salah satu dari sekian banyak kejadian serupa.

 

Sekali lagi harus saya singgung, siapapun sah-sah saja memiliki ide bagus, ide hebat, ide keren atau apapun itu sehingga dengan ide-ide tersebut mereka menyatakan diri sebagai seorang yang idealis. Apapun itu sungguh sah-sah saja, mau itu ide tentang aplikasi yang bisa membuat semua orang kaya tiba-tiba, ide membuat perusahaan yang bisa setara apple dan google, membuat sosial media terbaru. itu Hak siapapun yang bisa berpikir, sekali lagi sah-sah saja.

 

Namun maaf, sehebat apapun ide tersebut, itu hanya akan menjadi SAMPAH pikiran bila para pencetus ide hanya sibuk bicara pepesan kosong, menunggu pihak lain di luar pendiri yang mau membantu dan tidak mampu untuk direalisasikan oleh para pendiri.

 

Sesuaikan ide dengan kemampuan untuk melakukannya secara mandiri jika ingin meminimalisir kegagalan. Setidaknya jika pun gagal, bukan pada kegagalan dalam membuat produk utama, dimana hal tersebut merupakan langkah awal mendirikan usaha. Cobalah bercermin dan bertanya kepada diri sendiri

 

“Apa yang bisa saya lakukan sendiri untuk merealisasikan sebuah usaha tanpa harus mengandalkan orang lain?”

 

Kalau hanya berpikir ide, saya rasa anak ke-2 saya masih 3 tahun juga bisa melakukannya.

 

Mengandalkan pihak lain adalah cara yang paling sering dilakukan oleh mereka yang gagal membangun usaha, mau seperti mereka? Cobalah!

 

 

****

 

Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 2 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”, Artikel ini masih akan berlanjut ke PART IV dan Seterusnya. Nantikan update selanjutnya segera!

 

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 4 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Asal Punya Partner (PART IV)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang       Seperti yang telah dikatakan pada part sebelumnya yakni “Cara Gagal Membangun Usaha Part 3” dimana tulisan “Cara Gagal Membangun Usaha” ini terdapat 5 Poin dan setiap poinnya dibuat/part. Kali ini kita lanjut pada poin ke 4 […]

0 comments

 

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

 

Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product Market fit dan Early Growth.

 

Jika anda bingung apa itu development, product market fit dan early growth? Atau anda belum mengikuti Part sebelumnya dari pembahasan “cara gagal membangun usaha” ada baiknya anda membaca Part I terlebih dahulu yang anda bisa lihat dengan klik disini.

 

Saat ni saya akan membahas Poin ke 2 dari cara gagal membangun usaha yang sebenarnya ada 5 poin di dalamnya. 3 poin berikutnya akan saya lanjutkan pada part-part selanjutnya menimbang Poin ke-2 yang saya bahas ini cukup panjang. Saya akhiri kalimat pembuka ini dengan ucapan “Selamat Menyimak”.

 

Selalu Berpikir Kekurangan Modal

 

Usaha butuh modal itu mutlak dan tidak bisa diganggu gugat! Namun sayangnya banyak sekali yang merasa kekurangan modal sebagai kendala usahanya saat ini belum bisa bangkit atau bahkan belum bisa dimulai. Itu semua karena persepsi akan modal itu sendiri adalah uang. Padahal uang hanya salah satunya, bukan satu-satunya. Persepsi saya bahwa banyak yang menganggap uang sebagai modal utama usaha, semakin diperkuat dengan bukti chat yang bisa anda lihat berikut ini:

 

Screenshot Chat Om Edu

 

Orang yang membalas chat tersebut bukanlah orang yang bisa dianggap remeh, saya tahu anda tidak mengenalnya. Namun saya ceritakan sedikit backgroundnya, ia bernama Edward Sutanto atau biasa saya panggil Om Edu, ia adalah salah satu member grup UMKM yang saya buat untuk membina UMKM agar bisa lebih melek digital.

 

Om Edu juga salah satu UMKM dan Mentor usaha yang juga membina UMKM yang kalau tidak salah ia membina dalam hal pemasaran dan pembukuan keuangan. Saat ini ia juga sedang melakukan Product Market Fit atas perusahaan berbasis digital yang baru saja ia rintis di luar usaha lain yang sudah berjalan. Berbekal ilmu pengetahuannya tentang dunia Waralaba atau Franchise yang sudah lama ia geluti, ia membuat sebuah perusahaan yang menyediakan pilihan usaha franchise berbasis digital dengan melibatkan UMKM binaannya.

 

Karena kompetensinya dalam membina UMKM, banyak perusahaan fintech atau pembiayaan berbasis digital yang menawarkan kerjasama dengan tujuan untuk menggaet UMKM dibawah binaannya sebagai pengguna fintech tersebut.

 

Rebranding Usaha UMKM

Salah satu produk UMKM Binaan Om Edu yang ia bantu Rebranding

 

Dan di lapangan, setelah mungkin ia melakukan komunikasi dengan banyak UMKM, ia berkeyakinan bahwa kendala utama UMKM adalah modal, yang dalam hal ini modal itu berarti Uang. Hal tersebut bisa tergambar dari screenshot chat yang saya sertakan tadi, Dimana disitu ia mengutarakan pendapat bahwa salah satu kendala utama UMKM terutama yang masuk dalam kategori Mikro dan Kecil adalah modal, yang konotasinya lebih ke modal yang berupa uang.

 

Tapi saya memberikan sebuah pernyataan berupa if else (jika-maka) saat ia mengungkapkan bahwa kendala utama UMKM adalah modal berupa uang. Karena yang saya yakini sampai saat ini uang itu bukan modal satu-satunya, namun hanya salah satunya. Makanya saya bisa membalas chatnya dengan if-else “Jika kendala utama UMKM adalah modal, maka Pinjaman Online yang 5 menit cair bisa menjadi solusi apabila bicara diluar kepercayaan agama manapun.” kemudian  balasan chat dari om Edu berikutnya entah memang setuju betulan atau terpaksa menyetujui, sepertinya kalimat itu cukup sulit diberi argumentasi apabila kendala utama yang benar-benar dialami UMKM adalah modal uang.

 

Itu mengapa sampai saat ini saya masih ragu apabila kendala utama UMKM atau Usaha adalah Uang. Apakah benar itu masalah utama? Atau memang hanya kedok untuk menutupi keraguan akan kemampuan?

 

Bisa jadi kan justru kendala utamanya justru faktor penting lain yang disepelekan seperti kurangnya literasi finansial, tidak mampu melakukan strategi pemasaran, promosi dan sebagainya yang asalnya dari diri sendiri.

 

Saya tahu bahwa kalimat “uang bukanlah segalanya tapi segalanya butuh uang” sudah mencuat bahkan menjadi mindset untuk banyak orang saat ini. Tapi apakah benar uang menjadi faktor utama? Saya tidak yakin! bisa jadi uang hanya faktor pendukung saja.

 

Anda tahu bagaimana Alibaba bisa sebegitu besarnya? kalau anda berpikir bahwa alibaba berawal dengan modal uang, itu salah besar! Yang dilakukan Jack Ma adalah…

 

Oh iya saya lupa, saya sudah bilang di part sebelumnya bahwa saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh dan tidak menjadikan diri saya sebagai contoh… Kalau begitu dari Jack Ma, saya beralih membahas Rian saja. Bukan! bukan vokalis D’Masiv, Namun Rian ini adalah teman saya sejak SMP. Meski berteman dari SMP, Saya baru akrab dengannya 3 tahun belakangan ini, karena ia sering main ke rumah untuk sekedar ngopi dan ngobrol. Salah satu yang menjadi sebab juga Rian bisa akrab dengan saya hingga saat ini karena Rian tidak pernah meminjam uang saya selama berteman dengan saya.

 

Rian itu mantan koki di restoran yang cukup ternama, ia berhenti bekerja karena kondisi saat itu ia sedang mengambil kuliah kelas karyawan yang dimana pada hari Sabtu ia harus masuk dan jadwal pekerjaan-nya mengharuskan Rian masuk di hari Sabtu. Maka ia putuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk kuliah sampai tuntas.

 

Karena kesulitan mencari pekerjaan yang libur di hari sabtu dengan skill yang ia punya yakni memasak, Rian mengisi waktu kosong senin-jumat dan minggu untuk cari penumpang. Ya, dia beralih menjadi driver ojek online.

 

Suatu hari si Rian ini curhat bahwa pacarnya selalu minta dinikahi, Rian bukan tidak mau, ia baik-baik saja jika pacarnya bersedia diresmikan hanya di KUA tanpa pesta dengan mas kawin yang alakadarnya.

 

Curhatan panjang itu akhirnya bermuara ke pembahasan tentang masalah perekonomian. Dari mulai membahas orderan ojolnya mulai sepi padahal ia tidak pernah menimbang-nimbang jarak untuk ambil penumpang, ia keukeuh dan bermimpi ingin keluarganya yang terdiri dari orangtuanya dan dua adiknya memiliki rumah sendiri karena sampai saat ini masih sewa rumah, pacarnya terus meminta Rian untuk menikahinya (ini sangat wajar sih), Kuliah masih ada beberapa semester lagi, ingin cari pekerjaan namun ia belum menemukan yang bisa libur di hari Sabtu. Saya menangkap semua keluh kesah Rian menjadi satu kesimpulan, bahwa Rian ingin punya banyak uang.

 

Saya sebagai teman yang saat itu merasa diajak bertukar pikiran akhirnya mau tidak mau memberikan sedikit pikiran saya. Saya hanya berkata bahwa “yang halal belum tentu potensial”. Jadi Driver ojol memang halal, tapi apakah potensial? saya rasa belum tentu, bahkan lebih kepada tidak potensial. Kalau usaha sudah pasti potensial, namun sebaliknya, apakah halal? belum tentu.

 

Driver Ojol yang membaca ini mungkin mengelak, “Tapi jadi driver ojol kan penghasilannya bisa buat bangun usaha?”

Nah, itu berarti usaha nya yang potensial kan?

 

Saya bersimulasi menjawab pertanyaan sendiri itu sebenarnya ingin menghindari perdebatan karena ketersinggungan, namun mau bagaimana? Memang kalau bicara potensial, ya tidak. Bagaimana bisa jika statusnya mitra, bisa diputus kapan saja, dan sebagainya disebut potensial? kalau sekedar “Yang Penting Halal” iya. Saya pun berharap agar pihak perusahaan ojol, membuat kebijakan agar profesi ojol menjadi potensial.

 

Lanjut ke kisah Rian,

 

Rian menangkap maksud saya, ia tahu bahwa saya menyarankan Rian untuk usaha. Namun seperti kebanyakan orang lainnya, pertanyaan Rian berikutnya setelah disarankan usaha adalah “Usaha apa yang cocok?” Namun sebelum Rian melanjutkannya dengan kalimat “Belum ada modal” saya pun melanjutkan pembicaraan bahwa usaha yang cocok adalah yang bisa dilakukan secepat-cepatnya, 

 

Saya mengatakan bahwa ia punya kemampuan memasak, Bahkan ia pernah cerita Roti Tissue yang ia buat pernah mendapatkan ucapan “Good” dari salah satu juri Master Chef saat berkunjung ke restoran tempat ia bekerja dulu, saya percaya ceritanya karena saya tau masakan Rian memang enak dan dia itu sulit untuk berbohong. Intinya kemampuan tersebut bisa menjadi modal awal.

 

Tidak terasa waktu kami mengobrol sudah berganti hari,  Pukul 02.00 dini hari menandakan waktu obrolan kami selesai. Entah ia menangkap saran saya atau tidak, yang penting sebagai teman saya sudah menyarankan yang menurut saya itu terbaik yang bisa saya berikan sebelum ia pamit pulang.

 

Tanda ia memikirkan saran saya atau tidak, terjawab jelang seminggu kemudian ketika Rian main lagi ke rumah saya membawa pacarnya. Pacarnya di dalam menemani istri saya, si Rian di luar bersama saya, Rian menyatakan keinginannya untuk membuat usaha makanan, ia mau berjualan Rice Bowl.

 

Saya dengan senang hati mendengarnya dan memberikan beberapa saran. saya memberikan saran kepada Rian untuk melakukan 3 hal penting yang barusan saya bahas, serta sedikit tambahan saran kepada rian untuk membuat foto makanan yang bagus dengan modal kardus, karton putih dan sorotan lampu + dibantu dengan editan aplikasi android bernama VSCO dengan panduan edit foto yang bisa dilihat di Pinterest dengan keyword “VSCO Food guide”

 

Dan inilah yang dihasilkan dari obrolan tersebut:

 

Foto Ala Studio Makanan

foto menu rice bowl ayamnibro

 

hahaha, Rian hampir sama sekali tidak keluar uang untuk dapat background foto layaknya foto ala ala studio tersebut. Rian menggunakan kardus, lem kertas, kalender bekas yang dibalik, dan lampu belajar yang sudah lama ia miliki.

 

Dengan sisa uang rokok yang ia punya, ia membuat beberapa menu untuk difoto, bahkan saya tak luput diberikannya tester dari Rice Bowlnya.

 

“Enak!” hehe.

 

Rian memulai tahap Product Market Fit untuk menjual Rice Bowl tersebut dengan sistem PO atau Pre Order yang dipasarkan di status WA dan Instagram bermodal foto dan kata-kata “Open PO…”, saya juga termasuk yang ikut PO hehe.

 

 

Tidak disangka, di saat baru beberapa hari menjalankan usahanya, teman kuliah si Rian yang saat itu ternyata salah satu manager di perusahaan besar senang melihat Rian usaha, hal itu tergambar dari chat ketika ia membalas status WA Rian tersebut. Tidak hanya mengirim balasan Chat, bahkan Rian diberikan uang cuma-cuma sebesar 1 juta Rupiah. Kata Rian, dia sampai gemetaran membalas chatnya, karena belum ada yang pernah kasih dia uang cuma-cuma segitu banyak, hanya karena senang melihat Rian memulai usahanya. Ya, Sesederhana itu alasannya. Orderan Rice Bowlnya juga sampai saat ini Rian bilang “Tiap hari ada saja yang beli dari aplikasi Ojek Online”

 

Ayamnibro Gofood Screenshot

Usaha Rice Bowl Rian di Aplikasi Ojol

 

Screenshot Hasil Jualan Ricebowl Rian di Aplikasi Ojol

Beberapa hasil jualan Rian di Aplikasi Ojol

 

Jadi bagaimana? Apa saat ini anda masih berpikir bahwa anda kekurangan modal untuk membuka usaha? Lalu apakah anda masih berpikir bahwa Uang adalah modal utama yang bisa merealisasikan usaha anda? Padahal orang seperti Rian saja menggunakan uang rokoknya hanya sebagai pendukung berdirinya usaha, bukan modal utama, ia tidak pernah merencanakan uang rokok tersebut untuk modal usaha sebelumnya. Dari uang rokok tersebut, ia buat foto produk menjadi status WA yang akhirnya menjembatani datangnya uang dari teman kuliahnya

 

Kalau masih seperti itu, coba anda dipikirkan kembali! Jangan-jangan jika anda memiliki uang pun, anda masih ragu untuk menjalankan usaha tersebut? Atau jika pun anda jalankan, anda malah gagal? Tanda-tandanya sudah terlihat dari cara anda berpikir bahwa uang adalah modal utama yang itu artinya modal lain seperti ilmu, kemampuan dan pengalaman menjadi modal nomor sekian.

 

Bukankah dengan berpikir seperti itu saja sudah menandakan bahwa usaha yang ingin atau sedang anda rintis bukanlah usaha yang mampu anda lakukan dan jalankan dengan sesuatu yang berasal dari dalam diri anda? Dengan kata lain, anda memikirkan apa yang diluar kemampuan anda, yakni modal uang yang cukup banyak.

 

Bukan tanpa alasan ya memasukan “berpikir kekurangan modal” ini sebagai poin untuk cara gagal membangun usaha. Karena pikiran tersebut banyak menghantui anak-anak muda milenial, yang ingin sekali memiliki startup, merasa idenya sangat bagus, menghubungkan A dengan B atau segala macamnya, tapi ia sendiri tidak bisa membuat produknya, berharap ada orang lain yang mau membantu merealisasikan idenya, berharap mendapatkan programmer handal untuk menjadi rekan bisnisnya, berharap ada investor baik hati atau angel investor yang mau gelontorkan uang milyaran hanya dengan sekedar memiliki konsep dan ide.

 

Banyak sekali yang seperti itu, Fokus kepada hal yang ia sendiri tak bisa melakukannya dengan cara semudah-mudahnya di awal, ambisi sukses hanya mengandalkan ide yang baginya sangat brilian dan juga mengandalkan faktor keberuntungan berharap banyak orang akan menerimanya, tapi tidak menyesuaikan modal kemampuan merealisasikan, modal kemauan untuk berkorban dan tentu tidak menyesuaikan dengan modal yang ada pada isi rekening pribadinya.

 

Jika saat ini kemampuan anda hanya bisa menyeduh kopi, menyundut rokok dan memikirkan ide-ide, mungkin berjualan kopi dan rokok keliling dengan sepeda sambil mengajak ngobrol pembeli dengan membahas ide-ide anda adalah usaha yang tepat untuk anda mulai.

 

Jika anda ingin mendapatkan pengalaman gagal membangun usaha, berpikir “kekurangan modal” ketika berencana atau baru memulai usaha itu adalah  salah satu caranya, Cara yang terbukti cukup cepat bagi anda untuk mendapatkan pengalaman gagal membangun usaha, bahkan sebelum anda memulainya.

 

 

***

Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 3 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”, Artikel ini masih akan berlanjut ke PART III dan Seterusnya. Nantikan update selanjutnya segera!

 

PART III

Cara Gagal Membangun Usaha: Mengandalkan Pihak Ketiga (PART III)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang   Pembahasan cara gagal membangun usaha Part ketiga ini tentunya adalah lanjutan dari Part sebelumnya yakni “Selalu Berpikir Kurang Modal” di bachri.com yang bisa anda lihat dibawah ini:   Apabila dari part pertama pun anda belum membacanya atau menyimaknya, […]

0 comments
Cara Gagal Membangun Usaha: Tidak Melakukan 3 Tahap Awal (PART I)

Cara Gagal Membangun Usaha: Tidak Melakukan 3 Tahap Awal (PART I)

 

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang

 

Sebelum saya memulai pembahasan cara gagal membangun usaha, saya ingin memberikan peringatan bahwa tulisan satu ini adalah salah satu tulisan paling panjang yang pernah saya buat. Namun saya pastikan untuk anda, terutama anda yang saat ini sedang ingin memulai usaha atau baru memulainya, bahwa ANDA TIDAK AKAN RUGI meluangkan waktu untuk menyimak pembahasan ini sampai tuntas.

 

Setidaknya, anda akan mendapatkan ilmu yang sangat dasar sekali untuk memulai usaha, bahkan saking dasarnya, pembahasan ini tidak menjanjikan yang muluk-muluk kepada anda, seperti misalnya anda akan berhasil, sukses dan kaya seperti para Leader MLM memotivasi Downline mereka.

 

Saya juga berusaha menyajikannya semenarik mungkin dengan contoh, kisah nyata dan se-berbeda mungkin dari yang lainnya, agar anda tidak bosan seperti ikut seminar-seminar atau kursus online yang diisi oleh narasumber full teori dimana belum sampai tuntas anda sudah menahan kantuk dibuatnya.

 

Karena hal yang akan dibahas ini benar-benar dasar, namun tidak patut disepelekan begitu saja. Karena “dasar” yang benar itulah yang berpotensi menghasilkan “Expert” yang benar. Jika dasarnya saja keliru, “Expert” yang dihasilkan ya berpotensi keblinger.

 

Pertanyaan-nya apakah ilmu dasar yang anda dapat tentang memulai usaha itu sudah benar? Ya saya tau, benar atau salah itu relatif. Namun perlu diingat, gagal memulai sesuatu dengan hal yang paling mendasar saja, itu sudah indikasi bahwa dasarnya saja sudah salah. Dalam konteks membangun Usaha, gagal di awal permulaan adalah tanda bahwa dasar yang anda ketahui kurang tepat. Untuk itu belajar ilmu dasar ini sangat penting.

 

Sebagai alternatif selain membaca, anda dapat mendengarkan Audio Podcast dimana saya yang membacakan tulisan ini untuk anda, jadi bagi anda yang tidak suka membaca tulisan panjang, bisa langsung mendengarkannya sambil melakukan aktivitas lain.Cara Gagal Membangun Usaha ini juga akan selalu saya Update poin-poinnya di Bachri.com

 

Pembahasan cara gagal membangun usaha ini tentu bukan untuk anda lakukan, Lebih tepatnya justru untuk anda hindari. Terutama untuk anda yang baru mau atau sedang memulai membangun usaha.

 

Daripada anda disibukan dengan pertanyaan

“Usaha apa yang cocok?”

“Bisnis apa yang bagus?”

“Bagaimana cara sukses membangun usaha?”

Ataupun semacamnya, kenapa tidak anda rubah saja pertanyaannya menjadi

“Hal apa yang menyebabkan usaha yang baru mulai bisa gagal?”

 

Bukankah selama ini anda mencari usaha apa yang cocok untuk anda jalankan itu juga karena anda mengkhawatirkan kegagalan? Kemudian anda ingin memastikan bahwa ada bisnis atau usaha yang benar-benar bisa membuat anda berhasil dan membuat anda mendapatkan keuntungan banyak bukan?

 

Maka dari itu, jika anda seorang pemula atau orang yang baru mau memulai usaha, akan lebih tepat jika yang harus anda ketahui terlebih dahulu adalah langkah-langkah bagaimana usaha anda tidak menemui potensi kegagalan apalagi di awal-awal merintis usaha. Bukan malah disibukkan dengan mencari bisnis atau promosi apa dan bagaimana yang bisa membuat anda berhasil? Yang dimana hal itu belum tentu cocok buat anda.

 

Karena sejatinya setiap produk pasti ada pembelinya, tinggal anda sebagai eksekutornya, apakah anda bisa membawa produk yang anda jual bertemu dengan pasar yang tepat?

 

Kegagalan usaha di awal-awal merintis dapat sangat menyerang psikis dan mental anda. Membuat anda berpotensi berpikir bahwa anda tidak berbakat untuk usaha, bahkan trauma dan menutup diri akan peluang usaha yang ada.

 

Untuk itulah agar usaha yang baru mau anda mulai dapat meminimalisir kegagalan, hindarilah cara gagal dalam usaha yang akan saya bahas berikut ini:

 

 

Tidak Melakukan 3 Tahapan Penting di Awal Usaha

 

Rata-rata usaha rintisan, gagal karena mengabaikan 3 Tahapan penting yang akan saya bahas berikut ini. Sebagai orang yang niat membangun usaha, sebaiknya anda harus mengetahui dan mempraktekkan 3 Tahapan penting ini.

 

Jika anda baru mau memulai usaha, Anda harus menyimak ini sampai selesai. Saya tidak akan mengambil contoh jauh-jauh membahas kesuksesan Mark Zuckerberg, Bill Gates, Jack Ma, Steve Jobs, Jeff Bezos atau sebagainya.

 

Eits, Jangan berpikir juga saya akan membahas orang-orang sukses lokal yang baru-baru ini namanya mencuat seperti Nadiem Makarim, William Tanuwijaya, Achmad Zaky atau sebagainya. Karena saya paham, sudah sangat banyak yang membahasnya di luar sana.

 

Apakah anda mulai berpikir bahwa saya akan membahas diri saya dan pengalaman saya sendiri? Bukan! Tentu saya tidak membahas diri sendiri juga disini, Tidak! Saya mengerti anda pasti jengkel dengan orang-orang yang mencoba membanggakan dirinya di hadapan anda.

Disini saya akan menjadikan orang terdekat saya sebagai contoh yang tanpa sengaja telah menjalankan 3 tahapan ini. Ia adalah Istri saya sendiri dengan usaha Cimol Mozzarella nya.

 

Cerita ia memulai usahanya diawali karena kegemarannya membuang-buang uang untuk membeli cemilan-cemilan yang ia suka. Dia pecinta cemilan kekinian. Sering protes terhadap saya yang suka menghamburkan uang untuk membeli rokok, tapi dia tidak menyadari bahwa uang yang dikeluarkan untuk beli cemilan juga tidak kalah banyak.

 

Karena kami tinggal di tempat yang semi komplek dan tetangga yang sedikit, Ketika saya disibukan dengan rutinitas, teman ngobrol dan nyemil istri saya yang saat itu profesinya sebagai ibu rumah tangga adalah tetangga persis depan rumah saya, seorang ibu yang biasa dipanggil Oma dan anak gadisnya yang masih SMK di kejuruan Tata Boga bernama Bimbi. Karena tetangga saya hobi memasak, tidak jarang mereka dan istri saya mengotori dapur untuk bereksperimen membuat makanan dan tentunya saya yang menghabiskan makanan tersebut.

 

Saat PSBB di berlakukan, Istri saya dan Anak tetangga saya si Bimbi yang saat ini masih harus menjalani sekolah dari rumah, entah apa yang terjadi tiba-tiba mereka kepikiran untuk iseng menjual Cimol Mozzarella buatan tangan mereka dan awal-awal sudah dapat 30 bungkus lebih orderan.

 

 

Foto Contoh Develop Cimol 3

 

 

Lucunya, tanpa disadari mereka telah melakukan 3 Tahapan awal yang memang seharusnya dilakukan oleh pengusaha pemula manapun untuk meminimalisir kegagalan. Nah apa saja 3 tahapan tersebut?

 

 

Tahap Development

 

Tahap Development ini adalah tahap merealisasikan produk awal yang berasal dari ide. Jika dalam kasus startup, ini adalah tahap dalam membangun Puwarupa (Prototype) atau Minimum Viable Product (MVP), contohnya seperti yang saya lakukan saat ini membuat mvp.isikado.com yang dimana saya memberikan puluhan ebook gratis dengan hanya… Oh iya saya lupa, saya tidak seharusnya membahas diri saya. ya, jika anda penasaran seperti apa startupnya dan ebook apa yang diberikan, kunjungi mvp.isikado.com saja.

 

Kembali ke istri saya dan si Bimbi di Tahap Development, mereka berhasil membuat produk awal dengan ilmu masak yang mereka punya dan resep yang mereka ambil dari internet. Mereka berhasil merealisasikan ide cimol berisi mozzarella itu menjadi sebuah wujud yang dapat dipegang, digigit dan ditelan.

 

Foto Membuat Cimol

 

Begitu saya tanya Istri  “Mengapa kepikiran jual cimol mozzarella?”

 

Dengan mudah ia menjawab “Karena aku suka cimol dan suka mozzarella.”.

 

Jadi pada tahap pertama ini memang harus fokus membangun produknya terlebih dahulu, bukan untuk hal yang lain. Hal ini mungkin kelihatan sepele, namun tidak bisa dipungkiri, pada praktek membangun usaha, banyak yang melakukan kesalahan dengan menggelontorkan uang yang tidak berhubungan dengan pembuatan produk awal.

 

Tolong jangan anggap sepele tahap paling penting ini, bahkan jika anda memiliki ide, anda harus mencari cara untuk merealisasikan ide tersebut secepat-cepatnya menjadi sebuah produk dengan tujuan agar anda bisa memvalidasi ide tersebut.

 

Ingatlah ide yang anda yakini hebat tersebut belum tentu benar-benar bagus sebelum anda merealisasikannya. Ide itu murah! 0 Rupiah! karena anda bisa membuat ide tanpa ada biaya. Asumsi bahwa orang-orang membutuhkan produk hasil ide anda tersebut juga belum tentu benar jika produknya masih berbentuk ide. Realisasikan dan Validasi! Barulah anda akan tahu benar atau tidaknya asumsi anda.

 

Cara memvalidasinya dengan memberikan tester, free trial, diskon dan sebagainya dengan tujuan memberikan pengalaman terhadap konsumen, agar anda tahu produk anda itu layak dijual atau tidak.

 

Foto Contoh Develop Cimol 2

 

Anda bisa mencontoh produk cimol mozzarella buatan istri saya dan si Bimbi, yakni memberikan tester kepada saya, hehehe. Tidak hanya saya sih, bahkan mereka juga memberi kesempatan lidah tetangga saya untuk mencobanya. Begitu responnya “Enak nih”, baru mereka Pede melakukan tahap selanjutnya. Tidak melakukan hal ini pada awal mula usaha anda bisa menjadi Cara anda agar gagal membangun usaha di awal merintis.

 

 

Product Market Fit

 

Pada tahapan kedua ini, anda harus memvalidasi yang kedua kalinya. Tapi yang divalidasi kali ini adalah bisnis model di pasar. Product Market Fit adalah tahap pembuktian bahwa calon konsumen bersedia membeli.

 

Biar tidak lama-lama dengan definisi, langsung saja ke contoh product market fit yang dilakukan istri saya dan si Bimbi dengan Cimol Mozzarellanya. Setelah berhasil melewati tahap development, cimol mozzarella itu akhirnya dijual dengan sistem PO atau Pre Order, yakni sistem pembelian dengan memesan dan membayar terlebih dahulu di awal dengan masa tenggang waktu tunggu.

 

 

Product Market Fit Cimol

 

 

Mereka mulai bergerilya menawarkan Cimol Mozzarellanya dengan cara update status WhatsApp, Posting di Sosial Media, dan sebagainya. Bermodalkan foto dan video dari beberapa biji cimol yang mereka buat dan coba. Di hari pertama hanya ada 3 orderan, pembicaraan istri sebelum tidur mulai ke arah keluh kesah

 

 

“Aku pingin jualanku laku, gimana ya caranya?”

Saya hanya tersenyum dan bilang

“semua orang yang jualan juga mau begitu”

 

Wajahnya agak terlihat sedih, semangatnya perlahan menurun, istri saya memang seperti itu tipikalnya.

 

Beruntunglah karena WhatsApp punya fitur broadcast, pada hari kedua ia menggunakan fitur tersebut untuk menawarkan dagangannya. Hasilnya 30 orderan masuk, ia terlihat bahagia namun tidak lupa sedikit keluhan ia keluarkan “Aduh bakal capek banget buatnya.”

 

Saya bukan tersenyum lagi, tapi sedikit tertawa sambil membalas “Lah kan itu yang kemarin kamu mau?”. Benar saja, mereka harus sampai begadang untuk membuat cimol mozzarella tersebut.

 

 

 

 

Jadi cara gagal membangun usaha selanjutnya adalah tidak melakukan product market fit. Banyak kasus yang terjadi belum apa-apa sudah memikirkan sewa tempat, buat stand, stok produk, padahal belum tentu pasar menilai produk tersebut layak mereka beli atau tidak. Walaupun setiap produk pasti ada pembelinya, Namun apakah anda mampu mempertemukan produk tersebut ke pasar yang tepat? Jawabannya validasi lah dengan melakukan product market fit.

 

 

Early Growth

 

Tahapan Early Growth ini, tentu bisa anda lakukan jika anda sudah melewati tahap development dan product market fit. Tujuannya adalah untuk menciptakan pertumbuhan yang stabil dan tumbuh konsisten. Di tahapan ini, berarti produk anda seharusnya terjual semakin banyak dan semakin sering.

 

Mungkin sudah terlalu banyak saya menjadikan contoh Cimol Mozzarella sebelumnya, tapi saya tidak bosan-bosan membahasnya, saya berharap anda juga tidak bosan menyimaknya.

 

Namun baiklah, kali ini sedikit saja saya membahas Cimol Mozzarella. Singkat cerita istri saya dan si Bimbi membuka sistem Pre Order untuk kali kedua. Yang terjadi adalah mereka mendapatkan order dari konsumen baru dan konsumen yang kemarin membeli alias repeat order. Sampai saat ini mereka masih menjual Cimol Mozzarella tersebut dengan sistem Pre Order seminggu sekali, dan ternyata banyak konsumen yang sudah menanyakan dan siap untuk kembali membelinya bilamana sistem Pre Order akan tersebut kembali dibuka.

 

 

Foto contoh early growth

 

 

Kasus di atas menandakan bahwa mereka sedang menjalankan tahapan early growth. Dan sayangnya mereka baru sampai pada tahapan tersebut dan cerita belum bisa dilanjutkan. Namun pembahasan ini masih panjang, yang itu artinya saya harus menyediakan kisah nyata lainnya sebagai contoh. Tenang! Saya masih banyak stok kisah nyata yang akan saya jadikan contoh untuk membahas poin selanjutnya.

 

Oh iya, sebelum ke poin selanjutnya Mungkin anda bertanya “Lho, memang ada tahap selanjutnya?”

 

Tentu ada! Kalau tidak ada, tidak mungkin poin ini saya bahas menjadi salah satu cara gagal membangun usaha jika anda tidak melakukannya.

 

Mungkin anda saat ini malah semakin bertanya-tanya

“Bukankah, kalau sudah berhasil melakukan tahap Development dan Product Market Fit, Otomatis akan ke tahap Early Growth? Jadi tidak mungkin kan Tahap Early Growth tidak dilakukan?”

 

Jawabannya “Mungkin”, Karena setelah tahap early growth ada tahap ekspansi, yakni tahapan memperluas usaha dengan skala yang lebih besar. Ada saja yang baru selesai tahap Product Market Fit langsung ke tahap Ekspansi.

 

Sebagai contoh jika istri saya dan Si Bimbi saat setelah PO pertama langsung membuka gerai bercabang-cabang, merekrut banyak karyawan dan memasukan usahanya ke aplikasi ojek online. Otomatis mereka harus stok bahan yang banyak, memastikan stok cimol selalu tersedia, harus memikirkan biaya sewa lapak, membayar karyawan dan sebagainya.

 

Padahal 30 orderan pertama itu, belum tentu konsumen mau repeat order, belum tentu lidah mereka merasakan bahwa cimol itu enak. Bisa jadi mereka membeli karena tidak enak hati dengan si penjual, karena yang menjual cimol itu suka membeli makanan mereka, karena kasihan, karena ingin bantu, ingin coba dulu.

 

Jangankan usaha yang dari tahap product market fit langsung loncat ke tahap ekspansi. Usaha yang baru sekedar ide, tahap developmentnya saja belum dilakukan, tapi founder nya langsung memikirkan ekspansi buat cari investor, nyewa ruko, rekrut karyawan, itu juga tidak jarang kejadian.

 

Tiga tahap di atas memang bisa dikecualikan untuk dilakukan dan bisa juga langsung masuk ke tahap ekspansi, asalkan pelaku usaha sudah terbukti memiliki rekam jejak yang baik, kompetensi serta potensi mengelola usaha yang sudah berhasil melewati 3 tahapan awal dan berhasil ada di tahap ekspansi bahkan sudah melewati tahap ekspansi tersebut.

 

Pertanyaannya, apakah anda memiliki itu semua? Kalau tidak, ya lakukan dulu 3 tahapan tersebut. Tapi kalau anda memang mau mendapatkan pengalaman gagal usaha, ya tidak usah dipedulikan 3 tahapan awal tersebut. Jika anda pemula dan 3 Tahapan awal tersebut tidak dilakukan, potensi anda mendapatkan pengalaman gagal membangun usaha akan lebih dominan.

 

 

 

**
Bagikan kepada teman, saudara, kerabat atau siapapun yang anda rasa sangat membutuhkan insipirasi yang ada pada artikel ini. Masih terdapat 3 Poin selanjutnya dari “cara gagal membangun usaha”, Artikel ini masih akan berlanjut ke PART III dan Seterusnya. Nantikan update selanjutnya segera!

\

PART II
Cara Gagal Membangun Usaha Part 2 Thumb

Cara Gagal Membangun Usaha: Selalu Berpikir Kurang Modal (PART II)

Anda Dapat Mendengarkan Podcast di Atas Sebagai Alternatif Membaca Apabila Anda Malas Membaca Tulisan Yang Panjang     Pembahasan cara gagal membangun usaha kali ini merupakan lanjutan dari Part sebelumnya dimana saya membahas tentang cara gagal membangun usaha pada poin pertama yakni “tidak melakukan 3 tahap awal” yang dimana 3 tahap tersebut adalah Development, Product […]

0 comments